Sinopsis Buku Pillow Talk by Christian Simamora


Pillow talk, bila diartikan secara harfiah the relaxed, intimate conversation that often occurs between two sexual partners after the act of coitus, usually accompanied by cuddling, caresses, and other physical intimacy. It is associated with sexual afterglow and is distinguished from dirty talk which usually forms part of foreplay. (obrolan yang ringan, santai tapi intim yang dilakukan oleh pasangan yang biasanya diikuti dengan candaan mesra um* istilahnya pemanasan sebelum bertindak ke kegiatan yang lebih jauh :D)

Yah, itulah judul novel yang akan kita bahas disini. Novel karya Christian Simamora ini bercerita tentang Jo dan Emi. Sahabat yang masing-masing dari mereka memiliki perasaan istimewa satu sama lain. Sayangnya, perasaan keduanya terhalang batas tipis yang kuat yaitu prinsip Emi yang tak mau pacaran dengan sahabatnya. Sedangkan, ia sendiri sebenarnya tersiksa kala ia memendam perasaan khusus terhadap sahabatnya, Jo bertahun-tahun lamanya.

Emi, seorang gadis easy going yang kelihatannya seperti gadis nakal-menurut kacamata orang tua zaman sekarang-. Namun, kenakalan Emi hanya sebatas dugem dan yang paling parah having sex dengan bermacam laki-laki. Terdengar sadis memang. Dibalik itu semua sebenarnya Emi adalah gadis yang baik hati, ia teguh dalam prinsip dan mandiri. Emi bertingkah nakal seperti itu mungkin karena dia memang terlalu tahu untuk urusan sexual intercourse. Yah, tapi hal yang seperti itu tak selamanya membuat kita memandang Emi sebagai gadis murahan kan? she's doing it for fun. Sikap Emi yang seperti ini tidak boleh ditiru yah tapi :)

Sedangkan Jo, sahabat Emi sedari kecil yang selalu setia dan selalu ada untuk Emi. Mengharapkan cintanya dibalas oleh Emi selama bertahun-tahun. Penulis mendeskripsikannya sebagai seorang laki-laki yang sungguh tampan dan rupawan. Singkatnya, Jo ini adalah tipe pria idaman wanita.

Pada akhirnya, apakah cinta diantara mereka yang notabene berbingkai sahabat akan bersatu?
baca saja novelnya
dijamin dengan bahasa yang renyah namun juga bermakna akan membuat anda betah membacanya.

Tanpa bermaksud porno, novel ini kentara sekali bersinggungan dengan kegiatan ranjang. Namun si penulis menuturkannya tanpa membuat kita merasa jijik malah kita akan dengan lahap menikmati imajinasi yang dituturkan penulis. Dari sini jugalah kekuatan dan kekurangan novel menjadi sebuah perdebatan. Gaya bahasa yang ceplas-ceplos tentang percintaan ini kadangkala malah membuat pembaca terbawa. Karena penulis menuturkannya sedemikian jelas tanpa ada sensor. mengingat budaya novel ini sebenarnya masih terpengaruh budaya Indonesia. jadi memang bisa dibilang vulgar juga.


Comments

  1. yayaa..
    tapi jangan cuma dicari masalah "begituan"nya ya .,
    hho ~
    xD

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)