Nilai di atas ILMU

Sebagai mahasiswa ataupun pelajar modern, dewasa ini kita sering lebih mengejar nilai daripada ilmu di perguruan. Kita berdalih bahwa tanpa nilai yang bagus kita tak akan mendapatkan pekerjaan yang layak dan akhirnya timbullah paradigma ‘Nilai Jelek Tidak Sukses’. Hal ini sudah ditanamkan oleh orang tua kita sejak dini, mereka member wejangan agar kita menjadi anak yang pintar, memiliki prestasi segudang, dan segala tuntutan lainnya.

Memang, kadangkala tuntutan mereka ada benarnya. Ada benarnya disini kita menjadi termotivasi untuk menuntut ilmu, membiasakan diri dengan persaingan, dan mengembangkan kemampuan potensial diri sendiri. Hal yang seharusnya tidak benar dalam hal ini adalah tuntutan untuk mendapatkan nilai sebagus mungkin, mendapatkan sekolah atau universitas sebagus mungkin, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan gengsi.



Sedangkan, ilmu seseorang tak hanya diukur secara kuantitatif dengan nilai yang didapatkan orang yang bersangkutan. Dan tuntutan itu kini merambah ke dunia usaha yang kebanyakan mematok jenjang pendidikan S1 minimal D3 untuk menjadi pegawai mereka, dengan rata-rata IPK minimal 2.75. Sungguh bisa kita bayangkan bahwa sekarang nilai menjadi tolak ukur utama pelajar untuk meraih kesuksesan. Kita tak sadar bahwa sebenarnya kita dibatasi.

Kita terbatas pada suatu hal untuk mendapatkan nilai yang terbaik agar bisa dikatakan ‘SUKSES’. Kita memfokuskan diri untuk mendapatkan nilai yang bagus, bukan untuk mendapatkan ilmu secara mendalam. Hal ini yang membuat Negara kita tetap berpredikat sebagai ‘NEGARA BERKEMBANG’. Kita tak mengembangkan diri untuk bidang ilmu tertentu yang membuat kita lebih menonjol dan potensial. Kita terpaku pada seberapa nilai yang kita punya.

Sehingga zaman sekarang banyak terjadi kasus pembocoran soal, calo skripsi, calo Ujian Masuk Universitas, titipan rekan masuk Universitas dan lain sebagainya. Karena kemampuan kita tak diukur dari seberapa cerdas kita memecahkan suatu masalah, tidak diukur dari seberapa paham kita akan bidang ilmu yang kita pelajari melainkan dari seberapa bagus nilai yang Anda punya.
Andai saja semua aspek di Negara kita ini tak berpatokan pada seberapa bagus nilai civitas akademik, maka bangsa kita sekarang sudah pasti menjadi Negara maju. Toh, banyak juga contoh ilmuwan yang ternyata mereka tak begitu pandai dalam urusan sekolah formal. Contoh: Bill Gates si pendiri Microsoft yang DO dari Harvard, Mark Zuckenberg si jutawan Facebook yang bernasib sama dengan Bill Gates, Steve Jobs si orang nomor satu Apple. Inc, ilmuwan sekelas Einstein sekalipun juga tak mengenyam pendidikan formal. Lalu mengapa kita sebagai Negara ‘yang hanya’ berkembang menganggap nilai di atas segalanya (ilmu).

Maka dari itu, kita harus mengubah mindset ‘warga Negara berkembang’ menjadi mindset ‘warga Negara maju’. Dimulai dari menerima dengan lapang dada IPK kita sejelek apapun itu, mendalami ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh, mengembangkan ilmu yang kita miliki, dan tidak menganggap nilai adalah segalanya. Maka niscaya Negara kita akan menjadi Negara maju berikutnya. Kalau kita sadari, Bangsa Indonesia adalah bangsa bersemangat juang tinggi.

Comments

  1. setuju banget om, kenyataan nilai sudah tidak bisa dipungkiri lagi untuk bisa diterima baik dalam dunia pendidikan ataupun dunia kerja, belajar yang penuh tuntutan membuat pemikiran seseorang tidak bisa berkembang tapi walaupun kita adalah korban pemerintah jalan menuju kemenangan masih ada om, hanya harapan dan semangat yang mampu mengubah semuanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena dibatasi oleh nilai, negara kita tetap menjadi negara berkembang, harusnya mental semacam ini yang perlu diperbaiki

      Delete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)