Resensi Buku : Antologi Rasa

Ika Natassa hadir kembali di dunia penulisan Indonesia, novel keempatnya yang berjudul Antologi Rasa ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan novel pendahulunya yang beraliran urban culture. Dengan gaya penulisan khas ceplas-ceplos, Ika Natassa menyajikan cerita yang menarik dari penulisan beberapa karakter yang ia ciptakan. Menurut Saya pribadi sih, dengan plot yang engga monoton dan cerita yang surprising, novel ini menjadi salah satu novel recommended sebagai pengisi waktu luang Anda.

Alkisah, tetap menggunakan karakter seorang pegawai Bank sebagai sorotan utama di setiap novelnya, Ika Natassa kali ini menciptakan tokoh Keara (Key) gadis urakan dan easy going yang cinta fotografi tetapi masih bergalau ria akan pengejarannya terhadap sahabatnya sendiri Ruly.


Di sisi lain, sahabatnya yang lain Harris juga menyimpan perasaan tersendiri terhadap gadis smart itu. Awal kisah Ika Natassa bercerita tentang liburan Key dan Harris di Singapore untuk menyaksikan pertandingan langsung F1 di Marina Bay Circuit, malangnya peristiwa naas yang menghancurkan hubungan persahabatan Key dan Harris terjad disini.

Dalam perjalanannya, setelah Key menghancurkan hubungan persahabatannya sendiri dengan Harris, Key tertatih sendiri untuk mengejar cinta Ruly. Ruly, pria sempurna yang termasuk dalam golongan absolutely straight menjadi incaran Key sejak awal mereka bertemu. Malangnya, Key keduluan Denise, sahabatnya yang lain. Ruly lebih tertarik untuk mengejar cinta Denise yang notabene sudah punya suami. Dalam kekalutannya inilah, selain hubungan pertemanan dengan Harris yang sudah rusak dan pesimisme mendapatkan cinta Ruly, Key bertemu dengan Panji yang berperan sebagai rebound cintanya (pelarian). Begitulah, hingga akhirnya Key mendapatkan apa yang Ia inginkan tetapi justru tidak membuatnya bahagia seperti seharusnya. Akhirnya, kebahagiaan Key bukanlah Panji maupun Ruly tetapi tidak juga Harris.

Kecerdasan Ika Natassa meramu konflik pergulatan hati Key sendiri menjadikan novel ini bukan sekedar novel yang menjual manisnya cinta tetapi menyuguhkan realita dari percintaan yang melibatkan persahabatan. Key yang bingung akan perasaannya yang tidak dibalas sesuai harapan oleh Ruly juga bingung akan bersikap seperti apa jika bertemu dengan playboy yang menjadi sahabat terbaiknya, Harris. Sayangnya, meski konflik yang disuguhkan bertubi-tubi, menurut Saya alurnya masih kurang meruncing sehingga terasa sedikit plain. Apalagi ketika Key mengambil keputusan untuk berpisah dari Panji, kurang didramatisir menurut Saya. Yah meski begitu, novel ini layak dinikmati kok. Cerita yang tidak biasa, realistis dan tidak kacangan menambah nilai plus nya apalagi dengan gaya bahasa yang mengalir. Bukan ciri novel yang berat tetapi mengandung esensi yang lumayan. Boleh dicoba!

Comments