Review Film : Perahu Kertas

Perahu Kertas, novel Populer karya Dewi Lestari yang penjualannya mencapai Best Seller dengan cerita yang luar biasa. Gaya penuturan Dewi yang apik beserta eksekusi konflik di dalamnya menarik hati Hanung Bramantyo untuk mewujudkannya dalam sebuah film. Kita semua tahu seberapa hebat karya Hanung, Kita semua tahu Siapa Hanung? Dia sutradara kenamaan di tanah air kita tercinta ini. Maka dengan background seperti hal tersebut, mungkin dan wajar sekali kan kalau kita sebagai penikmat novel memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap film ini?

Eksekusi Hanung dalam bagian awal film atau sekitar satu jam pertama bisa dibilang gagal. Alasannya banyak, menurut Saya ada beberapa hal yang mungkin oleh Om Hanung tidak dipertimbangkan dengan matang sejak pra-produksi. Dan elemen ini sangat mendasar, yakni pemeran! Sejak pertama kali mendengar bahwa yang akan memerankan Kugy adalah Maudy Ayunda Saya sudah tidak sreg, begitu pula dengan pemeran Keenan yang diperankan oleh Adipati Dolkien. Saya tidak memandang sebelah mata kemampuan akting keduanya, Saya sadar Saya belum meraih pencapaian seperti mereka. Tetapi, Kedua orang ini Saya rasa engga harus lolos casting untuk mendapatkan peran tokoh yang sejatinya unik dan saling melengkapi satu sama lain itu.

Kugy, gadis yang ekspresif berbeda 180 derajat dengan yang ada di film, Hanung mengarahkan Maudy atau mungkin memang Maudy sendiri yang hanya memerankan Kugy sekenanya. Kugy di film kurang ekspresif dan kurang obsesif, bukan gadis yang lincah juga bukan tipe gadis yang freak. Sama halnya dengan Keenan, pemuda cerdas dan sensitif. Memang Adipati masih bisa memerankan Keenan dalam bentuk yang pendiam tetapi Saya rasa Ia kurang menjiwai 'sisi seni' Keenan. Adipati tidak terlihat menonjol saat memerankan Keenan, berbeda dengan Reza Rahadian yang memerankan Remi. Satu lagi, ada karakter yang tidak diceritakan di novel mungkin cuma sebgai bumbu di Perahu Kertas bagian kedua nanti sih. Alasan pertama yang membuat Saya kecewa, pilihan pemeran utama yang kurang pas.

Kronologi di paruh film juga masih dibuat seenaknya sendiri oleh Hanung. Saya tahu ini film adaptasi dari buku. Saya tahu pasti sulit jika mengambil secara mentah apa yang ada di buku. Setidaknya, Hanung perlu membuat kerangka yang runtut sesuai buku tanpa harus menambahkan detail yang sangat kecil, Saya bisa maklum. Tetapi, karena Hanung mencampur adukkan kronologi, tidak runtut, dan membuat segalanya 'untold' atau secara harfiahnya tersirat, bagi yang belum membaca buku maka akan sedikit kebingungan. Karena seharusnya bagian awal Kugy berlayar di laut itu tak perlu. Lebih baik gunakan saja adegan Keenan yang ada di Belanda sehingga jelas kalau Keenan adalah blasteran Belanda. Tahu-tahu di tengah film terdapat dialog Bahasa Belanda, penonton akan bertanya-tanya bukan? Ketidak runtutan bagian awal film ini membuat penonton bosan akhirnya memilih tidak memperhatikan paruh kedua yang mulai disajikan sesuai dengan novel. Alasan kedua kekecewaan Saya adalah cerita yang tidak runtut.

Selain teknik Sinematografi tidak ada nilai plus yang di dapat dari film ini. Akting Maudy disini hanya sekenanya saja dan jujur Saya engga suka. Saya engga dapet feel dari film tidak seperti ketika Saya membaca novelnya. Terus terang juga, Saya lebih suka akting pemeran pembantunya, mereka kelihatan lebih membantu penjiwaan dan pemahaman terhadap konteks film. Jadi sekian review Saya, kalau boleh Saya bilang silahkan baca novel dulu sebelum menonton. Dan kalau engga ngebet banget sih mending jangan nonton.

Score 7!

Comments

  1. yah gee, harusnya liat film dulu baru baca review mu ini. huhu jadi bimbang :n:

    ReplyDelete
  2. aku jadi lebih suka ama Luhde kalau di film..
    paling nggak suka adegan Kugy Keenan pas di Sakola Alit, Kugy nya kurang "nendang"..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesalahan hanung memberikan peran Kugy terhadap aktris yang pembawaannya tidak ekspresif
      Kugy jadi terlihat melempem disini

      Delete
  3. Karena novel adalah secangkir kopi hangat di pagi hari ditemani bau embun dan tanah basah. Dan film adalah teh hangat yang dinikmati diantara renyahnya canda tawa teman teman di sore hari ~ Donny Dhirgantoro

    sepertinya kita harus bisa memposisikan diri sebagai pembaca dan pemirsa agar tidak terlalu kecewa :)
    Maju terus perfilman Indonesia :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fakta yang sudah dipegang, pakem yang sudah ada tak bisa seenaknya diubah begitu saja bung hehe :D
      boleh adaptasi tetapi tidak boleh bingung dengan plot yang disuguhkan seharusnya
      Honestly, plot nya lubang banget

      Delete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)