Resensi Buku : Deception Point

Cover US
Sama seperti karya-karya sebelumnya, Dan Brown sukses membuat sebuah thriller yang mengawinkan konspirasi dan dua hal yang berbeda. Kalau seni dan agama berhasil melahirkan sebuah The Da Vinci Code, ilmu pengetahuan dan agama menelurkan Angels and Demons, sekarang Dan Brown melebur politik, kekuasaan, ambisi, dan pengetahuan luar angkasa dalam Deception Point (Titik Muslihat). Karya Dan Brown yang satu ini terlepas dari karakter Robert Langdon dan aroma religi yang kental. Tetapi Dan Brown cukup cerdas meramu cerita yang sebenarnya memiliki benang merah, yakni fiksi yang terkesan nyata.

Deception Point dengan tokoh sentral seorang wanita berusia matang, Rachel Sexton adalah seorang putri dari Senator Sedgewick Sexton yang rencananya akan segera menjadi Presiden Amerika Serikat selanjutnya. Sayangnya, hubungan ayah-anak yang sebenarnya sama-sama sukses ini kurang harmonis, malah bertentangan. Bertentangan karena Rachel dalam pekerjaannya seolah terlihat membantu Presiden AS kala itu, Zach Herney. Rachel sendiri bekerja di NRO (Badan Intelijen AS yang sangat rahasia) dia bertugas sebagai analis data dan laporan semua kasus yang terjadi di AS kemudian membuat ikhtisar dan melaporkannya ke Gedung Putih. Di NRO, Rachel membawahi direkturnya, yakni William Pickering, seorang yang dari penampilannya terlihat biasa saja namun otaknya bahkan lebih berat daripada yang pernah orang lain pikirkan.

Langsun saja ke pokok cerita, Ayah Rachel, Senator Sexton berhasil memenangkan perolehan suara yang telak dalam non-Official American Election tetapi masih belum dikukuhkan sebagai Presiden. Dalam melancarkan jalannya, Sexton menyebarkan isu NASA. Ia mengatakan bahwa NASA adalah lembaga penggerogot uang negara terbesar dan seharusnya dialihkan menjadi lembaga privat. Sexton memojokkan NASA dengan segala kegagalannya, sayangnya tuduhan dan isu yang ia sebarkan agar perolehan suaranya semakin meningkat malah menjadi bumerang bagi karir politiknya sendiri.

NASA, lembaga antariksa Amerika Serikat dan juga lembaga kesayangan Presiden Herney sedang terpuruk karena proyek mereka memang terbukti gagal. Untuk menolong Presiden Herney dari kejatuhan dan menolong dirinya sendiri, maka NASA merekayasa sebuah penemuan yang menggemparkan. Awalnya bertujuan hanya untuk menghindari privatisasi lembaga antariksa ini tetapi konflik kemudian menyebar untuk membalikkan tuduhan Senator Sexton dan ujungnya banyak nyawa tak berdosa dikorbankan. Sedangkan, Rachel Sexton yang semula dikirim ke Milne Ice Shelf untuk melihat langsung penemuan NASA kemudian bersaksi dan melaporkan bahwa penemuan tersebut benar-benar asli akhirnya mengetahui muslihat yang sedang direncanakan oleh seseorang untuk mengelabui dunia dan menyelamatkan harga diri NASA.

Rachel dan kedua ilmuwan yang baru saja Ia temui di Lingkar Kutub Utara, Michael Tollan dan Corky Marlinson dikejar-kejar pembunuh yang sudah disiapkan oleh dalang pembuat konspirasi politik tersebut. Rachel hanya berusaha untuk melaporkan data yang sesungguhnya bukan untuk menyelamatkan imej ayahnya yang sudah tercoreng oleh isu yang disebarkannya sendiri. Pada akhirnya, misteri yang sudah terkuak tidak terungkap di hadapan publik tetapi tetap menjadi rahasia besar di dalam tubuh Gedung Putih dan karir politik ayah Rachel hancur lebur.
Cover Indonesia
Selama membaca buku ini, Saya merasa tidak terlalu nyaman. Cerita yang disuguhkan memang mengejutkan tetapi tidak membuat Saya cukup betah untuk mengikuti kalimat-kalimat yang terketik rapi di buku setebal 480an halaman ini. Berbeda dengan Angels and Demons yang selalu membuat Saya ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, Deception Point dalam gaya penceritaannya membuat pembaca merasa bosan. Padahal kalau kita mau membaca bagian akhirnya saja, disana terdapat lebih banyak kejutan. Bagian akhir buku ini membuktikan bahwa semua spekulasi dan hipotesis yang terbersit dalam pikiran Saya salah! Saya mengira dalangnya adalah Marjorie Tench (penasihat senior Gedung Putih) tetapi ternyata malah orang yang benar-benar innocence dan seolah mendukung Rachel. Sekali lagi, Dan Brown juga membuktikan kejeniusannya bercerita secara detail dan gamblang dengan data yang akurat. Kita seolah dibawa untuk menghadapi kisah nyata, bukan fiksi lagi. Dan terus terang buku-buku Dan Brown mempengaruhi pandangan dan persepsi Saya mengenai keadaan asli di dunia nyata. Jadi, sudah siapkah Anda membaca buku penuh kejutan yang sedikit membosankan ini?

Comments

  1. Serius kah membosankan ?
    Tadinya saya kira buku ini akan seseru The Davinci Code, Angels and Demons, Digital Fortress, The Lost Symbol, atau Inferno.

    Terima kasih atas review nya...
    Awesome :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)