Kewirausahaan bagi Kemandirian Perekonomian Indonesia

Kebanyakan warga negara kita berpikir bahwa lebih baik menjadi 'pegawai' daripada 'pemilik'. Survey membuktikan bahwa siswa SMA/sederajat banyak yang memilih jurusan teknik (engineering) dan ekonomi ketika ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.
Universitas Indonesia (UI), misalnya, lulusannya yang paling banyak diminati/diserap para pemberi kerja adalah dari Jurusan Ekonomi. Lalu, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jurusan Teknik Mesin, Teknik Industri dan Teknik Elektro. Adapun Universitas Gadjah Mada (UGM), Jurusan Teknik Elektro. Sementara itu, dari universitas swasta, misalnya Universitas Trisakti, yang banyak dicari adalah lulusan Jurusan Teknik; Universitas Bina Nusantara (Binus), Jurusan Teknik Informatika; Universitas Gunadarma, Jurusan Teknik; dan Universitas Atma Jaya, Jurusan Psikologi. Sumber
Untuk industri perbankan, dan jasa keuangan, posisi yang paling banyak dicari antara lain: head of risk management, head of product development, actuaries, dan relations manager. Selain itu, untuk bagian penjualan, pemasaran dan sumber daya, posisi yang paling banyak dibutuhkan adalah head of marketing, brand&channel manager, sales&business development manager, head talent management, HR Specialist
Kursi yang paling banyak dicari disektor engineering seperti minyak dan pertambangan antara lain : mining engineer, project manager, geologist, HSE, civil engineer, contruction manager. “Sektor ini masih banyak kekurangan sumber daya di level atas, sehingga perputaran dan tarik menarik talentnya sangat jelas terlihat. Bahkan, sebagian dari perusahaan mencari talent dari luar negeri,”katanya. Sumber
Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia untuk memiliki usaha sendiri, keberanian mengambil risiko, dan kesadaran untuk ikut serta berpartisipasi dalam tujuan menyejahterakan Rakyat masih dibilang sangat kurang. Pada dasarnya, gaji yang tinggi dan kehidupan pribadi yang terjamin adalah prioritas mereka. Sering sekali kita mendengar orang berbicara, "Ngurusin orang lain? Boro-boro ngurusin diri sendiri aja belum becus." Perkataan semacam inilah yang membuat kita terus-menerus menanam mindset negatif dan mengangkat ego tinggi-tinggi, imbasnya adalah kondisi bangsa yang tidak semakin maju tetapi malah stagnan atau bahkan bisa dibilang semakin menurun.

Berangkat dari niat "Berpartisipasi dalam pembangunan perekonomian negara", ada beberapa orang yang sudah merasakan "kelelahan" menjadi pegawai memilih membuka usaha sendiri. Tak perlu muluk-muluk, membuka usaha bisa dimulai dari hobi. Ada orang yang hobi membuat makanan, bisa berhasil dengan membuka usaha katering yang semula kecil-kecilan. Ada orang yang khawatir bila anaknya jajan di luar yang notabene tidak sehat, maka Ia membuat jajanan organik dan sehat untuk dikonsumsi anaknya dan berkembang menjadi usaha yang sukses. Ada juga orang yang berani taruhan dengan membeli usaha yang akan bangkrut kemudian di tangannya usaha itu berbalik menghasilkan keuntungan yang berlimpah. Pada dasarnya, semua orang memiliki bekal dan bakat untuk berwirausaha. Sayangnya, kembali ke premis sebelumnya, yakni orang Indonesia kebanyakan bermindset 'pekerja' bukan 'pemilik'.

Berbeda dengan negara China yang sudah menanamkan otak 'bisnis' pada warganya, kita Indonesia terlalu banyak mengandalkan produk luar negeri dan kurang mengembangkan potensi warga lokal. Kalau saja pemerintah mau mengoptimalisasi program pengembangan UKM, maka masyarakat akan berbondong-bondong membuka home industry dan masalah pengangguran yang semakin meningkat akan berkurang secara signifikan. Di China, menurut cerita dosen Saya pada suatu kuliah, di sebuah desa terdapat banyak sekali sentra Industri. Maka tak heran bila China yang kita kenal sebagai negara komunis (sekarang menjadi komunis tiga kaki karena ditambah pengusaha) yang dulunya tertinggal dan bisa dibilang miskin sekarang mulai maju menjadi bangsa yang diperhitungkan. Coba kalian lihat, pasar telepon seluler mulai dikuasai oleh produk China karena harganya relatif murah. Tidakkah kita sadar? Kalau China bisa, mengapa Indonesia tidak?
Bukti Semangat Kewirausahaan pemuda Indonesia

Selai itu, menjadi wirausaha juga bukan perkara 'mengenyangkan perut pribadi' saja tetapi lebih ke tujuan mulia seperti yang sudah berulang kali Saya singgung, yakni partisipasi dalam pembangunan perekonomian negara. Sektor yang membantu perekonomian negara dewasa ini lebih banyak bergantung pada sektor pertambangan, yang notabene pula sebagian besar dikuasai asing. Selain sektor pertambangan, perekonomian negara juga dibantu oleh pemanfaatan hasil alam untuk hajat hidup orang banyak yang dipegang BUMN. Tapi, menurut Saya itu tidak cukup. Kalau saja kita bisa menjadi seperti China, Jepang, atau Korea (negara Asia Timur) maka kita bisa melampaui mereka, menjadi macan Asia dan bisa kembali berswasembada beras seperti di era Orde Baru.

Lalu bagaimana cara kita mengembangkan mindset berwirausaha pada masyarakat?
  1. Pendidikan Kewirausahaan Sejak Dini
  2. Pendidikan kewirausahaan baru ditanamkan di bangku kuliah (ditanamkan di bangku sekolah menengah pada pendidikan kejuruan) hal ini rasanya terlalu terlambat karena sejak sekolah dasar, murid-murid dicekoki dengan doktrin harus menjadi pandai agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan hidup sukses. Seharusnya sejak sekolah dasar, pendidikan kewirausahaan ditanamkan dengan mengajak murid-murid membuat prakarya kreatif dan cara memasarkan karya mereka. Dengan begitu, pikiran mereka akan terpacu untuk berinovasi, melahirkan sesuatu yang baru, dan membuat Industri sendiri.
  3. Kemudahan Pemberian Pinjaman Modal pada UMKM
  4. Kebanyakan Lembaga Keuangan yang memberi pinjaman terhadap wirausahawan kecil memasang syarat yang cukup sulit dan proses yang cukup rumit sehingga membuat orang berpikir dua kali untuk mengajukan pinjaman dalam membuka usahanya. Jadi, orang akan takut untuk memulai suatu usaha karena mereka tidak punya modal yang cukup ditambah syarat yang bisa dibilang cukup rumit bagi mereka untuk mendapat dana. Maka dari itu, seharusnya lembaga keuangan memberikan pendampingan pengurusan dana dan memberi syarat yang mudah terakomodir sekaligus proses yang cepat sehingga orang tidak lagi takut menanggung risiko ditolaknya pengajuan dana mereka dan proses yang memakan waktu cukup lama (apalagi jika ditambah dengan uang administrasi sana-sini).
  5. Dukungan Pemerintah terhadap Wirausaha Lokal
  6. Dukungan Pemerintah sebenarnya sudah ada sayangnya belum dioptimalkan secara maksimal. Pemerintah sudah memiliki program pengembangan UMKM tetapi masyarakat sendiri yang notabene kurang kesadaran untuk turut serta dalam pembangunan ekonomi negara dan juga oknum pemerintah yang masih ada saja yang bersikap apatis membuat program pengembangan UMKM ini belum bisa dikatakan berhasil. Oleh karena itu, butuh dukungan kedua pihak untuk mewujudkan Indonesia Mandiri dengan budaya berwirausaha dan pengurangan angka pengangguran. 
Aspek Pendorong Kewirausahaan terutama Kemandirian
Jadi, mari kita budayakan wirausaha untuk mewujudkan bangsa yang mandiri, kreatif, dan inovatif! Dengan keyakinan dan kemauan keras niscaya bangsa kita bisa menjadi bangsa yang diperhitungkan lagi di kancah Internasional. Mari kita contoh etos kerja negara China, Jepang dan Korea yang unggul di sentra perindustrian. Jangan mau kalah dari mereka, jangan hanya bisa menikmati produk mereka. Kita adalah bangsa yang mandiri yang mampu menghidupi diri kita sendiri dengan produk kita sendiri. Go entrepreneur! Go!
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Bank Mandiri dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan

Comments