Review Film : Rectoverso

Cinta yang tak terungkap, begitu tagline yang disuguhkan ketika film pertama kali dimulai pun begitu dengan terpampangnya tagline tersebut di poster film. Memiliki benang merah yang sama, cinta yang terpendam tak diungkapkan, Rectoverso merupakan film omnibus yang diarahkan oleh lima sutradara berbeda pula. Lima sutradara tersebut adalah Marcella Zalianty (Malaikat Juga Tahu), Firasat (Rachel Maryam), Curhat Buat Sahabat (Olga Lidya), Cicak di Dinding (Cathy Sharon), dan Hanya Isyarat (Happy Salma). Film yang diangkat dari buku kumpulan cerpen milik Dewi Lestari dan berjudul sama ini patut dibilang BRILLIANT!


Film ini terdiri dari lima cerita. Malaikat juga tahu yang berkisah mengenai cinta tak sampai dari seorang penderita keterbelakangan mental dan pengidap OCD. Firasat yang mengusung kisah cinta yang tak terutarakan karena terhalang maut. Curhat buat sahabat yang menyentil kita untuk memperhatikan apa yang sebenarnya kita cari berada tepat di depan mata kita tetapi seringkali kita mengingkari kehadirannya. Cicak di dinding yang berkisah mengenai perasaan cinta yang terkhianati bahkan sebelum itu tersampaikan. Dan Hanya isyarat yang menuturkan bahwa cinta tak harus memiliki, melihat dari jauh saja sudah cukup.

Kelima cerita yang disajikan masing-masing memiliki karakteristik penceritaan tersendiri. Dengan alur yang melompat dari satu cerita ke cerita lainnya, kita diharapkan bisa merangkai sendiri cerita mana yang sedang dihadirkan. Tidak seabsurd film omnibus milik Hollywood, Cloud Atlas. Rectoverso justru lebih mudah dipahami dan dikenali karena gaya cerita dan penokohan lebih terarah dan jelas. Rectoverso tidak melulu juga mengusung tema percintaan yang menye-menye, film ini menghadirkan emosi dan amanah yang kuat dan membuat kita terasa diisi penuh begitu beranjak dari kursi penonton. Dan kalau boleh ane bilang, Malaikat Juga Tahu arahan Marcella Zalianty yang skenarionya ditulis Ve Handojo dengan pemeran utama Abang (Lukman Sardi) dan Leila (Prisia Nasution) adalah juara dari film omnibus ini.

Bukan berarti keempat film lain tak patut disandingkan dengan Malaikat Juga Tahu, tetapi cerita cinta si terbelakang mental ini menjadi kisah yang paling menonjol dan menguras emosi dengan eksekusi klimaks yang bagus. Setelah Malaikat Juga Tahu ada Firasat yang disutradarai Rachel Maryam yang juga menuturkan kisah yang manis namun dalam dan berbahasa sastra sekali, pembawaan Asmirandah sebagai Senja sangat bagus begitu pula dengan Dwi Sasono sebagai Panca. Dan kisah yang kurang memuaskan dan merupakan yang terlemah adalah Hanya Isyarat yang diarahkan oleh Happy Salma, cast Raga (bule backpacker) kurang menawan dan bisa dibilang kurang cocok karena kurang penghayatan terhadap karakter Raga itu sendiri, begitu pula dengan cerita yang diusung terlalu datar dan tidak menyentuh klimaks meski gaya sinematografi apik.

Masing-masing pemeran, Acha Septriasa, Indra Birowo, Dwi Sasono, Fauzi Baadillah, Prisia Nasution, Lukman Sardi, Yama Carlos, Sophia Latjuba patut diapresiasi. Dalam Hanya Isyarat, Fauzi Baadillah justru menjadi sosok sentral perhatian penonton dengan aktingnya bukan pemeran utama wanita maupun prianya.

Jadi, untuk film omnibus dari buku Dewi Lestari ini ane kasih empat jempol ane. FILM INI SOOO DEEEPPP!!!

Plot★ ★ ★ ★ ☆
Akting★ ★ ★ ★ ★
Musik★ ★ ★★ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ★ ☆

Comments

  1. sudah ketebak kalau Malaikat Juga Tahu yang pasti paling menonjol :)

    ReplyDelete
  2. Aku belum liat :( tanggal tua :'D Sampe maret ndak gee?

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari animo penonton yang cuma sedikit sih mau, kayaknya bakal cepet kegusur. Buruan nonton loh. Bagus, sumpah!

      Delete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)