Review Film : Limitless [2011]

Kebanyakan manusia di muka bumi ini hanya menggunakan 20% kemampuan otaknya. Orang-orang yang hampir menggunakan lebih dari 50% kemampuan otak mereka adalah manusia-manusia yang namanya dicatat oleh sejarah. Namun bagaimana bila kita, manusia biasa yang merupakan pecandu alkohol dan rokok, secara mendadak menjadi manusia brilian dan memiliki segudang raihan karir dalam waktu yang singkat? Setidaknya begitulah premis awal yang diangkat film yang dibintangi oleh Bradley Cooper, Abbie Cornish dan Robert De Niro ini.

Awalnya, Eddie Morra (Bradley Cooper) hanyalah seorang duda yang diceraikan istrinya, Melissa, dan seorang penulis yang sedang stuck dan kehabisan ide bahkan untuk menulis satu kata meski Ia telah memiliki kontrak dengan sebuah penerbit. Someday, setelah ditinggalkan kekasihnya, Lindy (Abbie Cornish) Eddie bertemu dengan mantan kakak iparnya, Vernon. Si Vernon ini memberi sebuah pil yang menjadi inti cerita film ini, yakni NZT48. Pil ini berkhasiat meningkatkan respon reseptor otak yang membuatnya teroptimalisasi dalam kurun 30 detik, singkatnya pil ini membuat peminumnya menjadi sosok yang jenius dengan instan. Berkat pil ini, perlahan Eddie mendapatkan kesuksesan demi kesuksesan. Sayangnya, Eddie menggunakan pil ini dengan tindakan yang kurang bijak sehingga Ia menjadi kecanduan menemui masa-masa terberat dalam hidupnya dan juga mengantarnya menemui Carl Von Varloon (Robert De Niro) pengusaha kaya raya seantero Amerika.

Cerita yang disuguhkan dalam mode flashback ini membuat kita ikut merasakan menjadi seorang Eddie dari nol yang diperankan oleh Bradley Cooper. Dengan ending yang dimodel twist, dan justru memang memusingkan kita sendiri dibuat bertanya-tanya dan berspekulasi mengenai akhir kisah Eddie dan pil NZT48 itu. Sinematografi yang apik dan kaya gaya membuat film ini cukup membuat mata kita termanjakan. Ditambah lagi dengan plot yang diputar-putar sedemikian rupa tetapi tetap disajikan dengan runut dan rapi. Hanya saja, bagi sebagian orang film ini tak memiliki amanah. Tetapi kalau kita mau jeli, sesungguhnya film ini menegur kita bahwa apapun (terutama kesuksesan) diraih dengan cara yang tidak instan dan butuh kerja keras. Kalau sampai kita meraih sukses dengan cara yang instan niscaya kesuksesan itu tak akan bertahan lama dan membuat kita lebih jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam. Sayangnya, hal yang esensial semacam itu kurang bisa ditangkap dikarenakan yah itu tadi sih, ending yang sengaja dibikin twisted.

Oke, jadi selamat menikmati film yang pesannya lumayan ngena ini!

Plot★ ★ ★ ★ ☆
Akting★ ★ ★ ★ ☆
Musik★ ★ ☆☆ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ☆ ☆

Comments