Resensi Buku : Nyanyian Cinta

Awal Mei ini ane dikejutkan oleh sebuah antologi terbitan WahyuMedia yang berisi tiga belas cerpen dari dua belas penulis berbakat, Nyanyian Cinta. Well, meski dimensi bukunya cukup tipis dan ringan ternyata buku kumpulan cerpen ini isinya engga se"ringan" dimensinya loh. Buku setebal 236 halaman ini merangkum kisah cinta tak biasa yang terinspirasi dari lagu. Jadi, lebih enak lagi baca buku ini dengan ditemani judul-judul lagu yang menjadi inspirasi para penulis untuk mengetikkan barisan kata sebagai bentuk intepretasi lirik yang mereka dengar dalam sebuah cerita.

Cerpen pertama yang terinspirasi dari lagu Moon Rivernya Frank Sinatra ditulis oleh Mbak Lala Purwono. Cerpen ini menunjukkan kerinduan seorang anak terhadap Bapaknya. Gaya bahasanya populer atau bisa dibilang tidak terlalu nyastra. Kerennya nih, Mbak Lala benar-benar bisa menyampaikan emosi kerinduan seorang anak terhadap Bapaknya dan tentu saja cerita ini membuat ane jadi rada melankolis.

Cerpen kedua merupakan intepretasi dari alunan nada Sempat Memilikimu oleh Yovie and Nuno, cerpen ini merupakan karya duet Abbas Aditya dan Wulan Martina. Well, Saya suka bahasa yang mereka gunakan. Semacam puitis dan berkonotasi, plot ceritanya pun cukup bikin geregetan ya hehe. Lagu Yovie ini dirangkum dengan baik oleh kata-kata dan sentuhan imaji penulis yang asyik.

Sayangnya, kalau ane bahas satu per satu masing-masing cerpen nantinya postingan ane jadi kepanjangan hehehe. Baiklah, bocorannya cukup dua cerpen saja. Selebihnya ane akan sebutkan beberapa cerita yang cukup membekas dan punya daya strike yang strong ke ane. Hampir setengah lusin cerpen ane suka seperti : Redup, Batas Mimpi, Luruh, Pelukan Selalu Kupercaya, Yogyakarta, dan Transit. Alasannya?

Redup memiliki gaya bahasa yang indah dan membuat pembaca larut dalam emosi si tokoh yang diceritakan, plotnya sendiri engga biasa dan cukup bikin mikir. Batas mimpi  memasang tokoh utama yang engga biasa, kita dibuat berputar-putar tetapi sebenarnya tetap di tempat. Batas mimpi memiliki alur plot yang cukup dalam dengan ending yang agak ekstrim, antimainstream kalau buat saya. Luruh, entah kenapa ane begitu tertarik dengan cerpen karya Taufiqqur Rizal ini, mungkin bahasanya? Atau mungkin kelihaiannya menghadirkan sebongkah cinta dalam sudut pandang yang lain. 

Pelukan Selalu Kupercaya, jujur cerpen satu ini menguras emosi ane sekali. Cerpen Pelukan Selalu Kupercaya ini memang berisi nuansa religius tetapi ada pelajaran yang benar-benar bisa kita petik dari situ, selain itu cerpen ini hampir mirip dengan jenis cerpen yang pernah ane tulis. Yogyakarta, kemahiran Mbak Chey Yuanita dalam mengolah barisan kata membuat ane terperangah dan merasa ane benar-benar berada di Jogja ketika membaca cerpen ini selain itu dengan konflik yang sebenarnya sederhana, Mbak Chey bisa mengemasnya dengan dramatis dan membuat orang merinding. 

Yang terakhir cerpen populer karya Audisty Oktaviani, Transit. Meski ini tulisan pertamanya, ane engga merasa membaca cerpen buatan pemula yang benar-benar baru masuk dunia kepenulisan, bahasa yang digunakan cukup ciamik dan bisa bersanding dengan penulis lain yang memiliki tingkat olah bahasa lebih tinggi. Apalagi, cerpen Transit ini merupakan satu-satunya cerpen yang menyoroti percintaan anak sekolahan, berbeda dengan cerpen lainnya.

Overall, meski berating teenlit sebenarnya antologi ini lebih tepat dikategorikan dalam Adult-Romance. Plusnya, antologi ini engga cuma menghadirkan cinta yang itu-itu saja tetapi lebih. Antologi ini menghadirkan cinta yang terang dan gelap, menghadirkan sisi kehidupan lain tapi masih berbalut cinta. Selain itu perpaduan gaya kepenulisan dengan gaya bahasa populer dan bahasa sastra disuguhkan dalam porsi berimbang dan engga berat sebelah. Minusnya, ada satu cerpen yang kurang mendukung untuk dimasukkan dalam antologi ini, ceritanya kurang menggigit sedikit lagi.

Rating : ★ ★ ★ ½ ☆

View all my reviews

Comments