Review Film : Chronicle [2012]

Hell-O readers! Kembali lagi bersama ane dalam postingan review film lagi. Karena ane doyan banget sama film berbau-bau fantasi, kali ini ane mau ngereview film begituan yakni Chronicle yang dirilis pada tahun 2012 lalu. Film ini minim budget tapi eksekusi konfliknya outstanding. Good Job! Well, mari simak bahasan ane mengenai film yang memasang para aktor rookie ini.

Memasang peran utama Andrew Detmer (Dane Deehan) seorang bocah yang gemar banget ngerekam semua kegiatan dengan kamera kesayangannya dan memiliki sepupu ganteng yang teramat bawel, Matt (Alex Russell). Andrew adalah tipikal bocah introvert dan broken home sehingga hal itu membuatnya tak pandai bergaul. Masalahnya berhenti sampai situ? Oh tidak!
Usut punya usut, sepupu si Andrew yakni Matt dan calon Ketua OSIS SMAnya, Steve Montgomery (Michael B. Jordan) menemukan sebuah lubang di tengah lapangan dan akhirnya mereka mengajak si Andrew yang pendiam dan agak penakut untuk mengeksplor lebih lanjut ke dalam lubang itu. Di sana, mereka menemukan Kryptonite (kalau pinjam isitilahnya Superman). Rupanya ketika mereka menyentuh Kryptonite itu mereka mendapatkan kekuatan supernatural secara tak sengaja. Sayangnya, dengan memiliki kekuatan yang besar seseorang harus memiliki tanggung jawab yang besar pula. Hal ini lah yang diangkat menjadi premis utama film ini, Andrew yang introvert sekaligus seorang anak yang emosional pula sehingga Ia tidak bisa menggunakan kekuatannya dengan bijak malah membuat onar.

Well, film ini minim budget karena model syutingnya saja dokumenter. Agak pusing memang karena kamera yang dipegang disesuaikan dengan si pengguna dan kadang-kadang menggelinding ke sana ke mari dan bergerak-gerak seperti itu (yah tahulah model pengambilan gambar dokumenter itu gimana). Jujur saja, selain  sudut pengambilan gambar bikin pusing dan mengganggu untuk jenis film fiksi ilmiah setengah fantasi ini, selama setengah jam kita juga dibuat bosan karena kronologi benar-benar disajikan runut. Dari nol ke satu (kalau pinjam istilah matematika). Kebanyakan juga percakapan biasa yang benar-benar bikin penonton mengantuk.

Meskipun kekurangan film ini cukup banyak, ternyata eh ternyata film ini memiliki konflik yang tereksekusi dengan mantap. Konflik yang dihadirkan begitu wah dan disisipi oleh sedikit twist yang memutar balikkan penilaian penonton selama setengah jam sebelumnya. Garapan klimaks menuju ending yang engga setengah-setengah inilah yang menjadi kekuatan dari film ini dan membuat ane kagum. Meski minim budget ternyata film yang kelihatannya membosankan ini bisa mengejutkan penonton juga.


Plot★ ★ ★ ½ ☆
Akting★ ★ ★ ☆ ☆
Musik★ ★ ☆ ☆ ☆
Grafis★ ★ ☆ ☆ ☆
Overall★ ★ ★ ☆ ☆   

Comments