Review Film : Shutter Island [2010]

Poster Shutter Island
Setelah dibuat cukup pusing dengan film Inception, ane jadi ketagihan sama film-film Leonardo DiCaprio yang berbau psychological thriller atau apalah itu namanya. Nah, kali ini ane dapat dari kakak kelas ane film Leo yang berbau hal-hal demikian pula. Judulnya Shutter Island dan disutradarai oleh Martin Scorsese. Memasang tampang ganteng Leonardo DiCaprio sebagai tokoh utama, Teddy Daniels dan Mark Ruffalo (si Hulk dalam The Avengers) sebagai karibnya, Chuck. Film ini membuat kita jadi agak berpikir (padahal sebenarnya cuma film yang gak perlu dipikir).


Jadi, dalam film ini dikisahkan bahwa Teddy Daniels, seorang Marsekal Amerika Serikat dan mantan veteran perang, ini dikirim ke sebuah pulau tempat para kriminal yang agak gila ditahan, Shutter Island. Di sini Teddy ditemani oleh Mark Ruffalo sebagai pembantunya untuk menyelesaikan misi rahasia di pulau yang rada-rada angker karena dihuni oleh orang-orang gila ini. Di sini mereka bertemu dengan penanggung jawab pulau atau bisa disebut sebagai psikiater utama yakni Dr. John Cawley (Ben Kingsley). Usut punya usut ternyata ada dugaan seorang tahanan perempuan yang berbahaya kabur, yakni Rachel Solendo (Emily Mortimier). Sayangnya meski misi utama Teddy adalah untuk menemukan Rachel dia sendiri malah terjebak dalam pulau, tak bisa keluar, serta menemukan rahasia lain yang lebih kelam di pulau tersebut.

Film ini sebenarnya ceritanya dari tengah-tengah "kelihatannya" menyimpang dari koridor ide awal, padahal sebenarnya memang ceritanya dibuat sedemikian rupa karena tokoh utamalah yang sebenarnya bermasalah. Kita seolah-olah dibuat percaya bahwa sepanjang film adalah kejadian nyata dan kita ikut geregetan begitu tahu Teddy tak bisa keluar. Kita juga dibuat ikut-ikutan mencurigai beberapa suspect yang kelihatannya berkonspirasi dan memiliki andil tindak antagonis. Pada akhirnya kita merasa bahwa sepanjang film kita ditipu dan endingnya dibuat twist sedemikian rupa bahkan kita sendiri bingung menentukan mana ending yang sebenarnya.

Pengambilan gambar yang dibuat dengan lighting temaram juga menambah kesan thriller film ini, juga dentuman musik yang membuat kita sampai mengerutkan dahi pula. Begitu juga akting Leo yang semakin matang dan sayangnya sampai saat ini dia belum cukup beruntung untuk meraih Oscar, pity Leo. Sayangnya kalau kita memang tidak memahami runutan alur cerita dan penggalan memori si Teddy dan kalau kita kurang jeli melihat keganjilan-keganjilan yang terjadi maka seusai menonton film in kita akan benar-benar merasa pusing. At least, film ini cukup ditonton sekali saja karena sudah cukup memusingkan. So, Selamat menonton!


Plot★ ★ ★ ½ ☆
Akting★ ★ ★ ½ ☆
Musik★ ★ ★ ☆ ☆
Grafis★ ★ ★ ☆ ☆
Overall★ ★ ★ ½ ☆   

Comments