Kicauan Presiden Sebagai Resolvansi Gejolak Ekonomi

Minggu (08/09) orang nomor satu Republik Indonesia berkicau lewat sosial media berlogo burung yang tengah tenar belakangan, twitter. Dalam kicauannya pada pukul 18.00 waktu Indonesia Barat tersebut menyebutkan beberapa langkah yang sekiranya akan ditempuh Bapak Presiden untuk menindak lanjuti gejolak ekonomi yang kini menjadi isu global.

Beliau menyatakan bahwa G-20 telah berembuk untuk mencari solusi demi kepentingan bersama. Pak SBY juga menambahkan bahwa penyebab ketidakstabilan ekonomi penyebab gejolak ekonomi yang telah bergulir adalah emerging markets dan ekonomi BRICS. Emerging Markets sendiri merupakan ekonomi pasar di negara dengan rentang pendapatan per kapita dari kelas rendah hingga menengah. Negara-negara tersebut merupakan sekitar 80% dari populasi global, dan mewakili sekitar 20% dari ekonomi dunia. Istilah ini diciptakan pada tahun 1981 oleh Antoine W. Van Agtmael dari International Finance Corporation dari Bank Dunia. Indonesia sendiri menduduki peringkat lima besar teratas emerging markets berdasarkan statistik yang diperoleh dari Global Intelligence Alliance (GIA).

Sedangkan ekonomi BRICS adalah Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan lima negara yang pertumbuhan ekonominya pesat. Akronim ini pertama dicetuskan oleh Goldman Sachs pada tahun 2001. Menurut Goldman Sachs, pada tahun 2050, gabungan ekonomi keempat negara itu akan mengalahkan negara-negara terkaya di dunia saat ini. Sayangnya, dalam kicauan Presiden ekonomi BRICS justru mengalami masalah baru yakni pertumbuhan yang mengalami regresi dan melambat serta daya tukar mata uang melemah.

Penyebab gejolak ekonomi yang sedang terjadi ada dua yakni : (1) Eksternal : Perubahan kebijakan moneter AS (2) Internal : Masalah yang terjadi dalam tubuh ekonomi BRICS sendiri seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Untuk itu Presiden SBY beserta G-20 bersama-sama mencari jalan keluar, lantas apakah solusi itu? Yakni himbauan bagi masyarakat lokal (re : rakyat Indonesia) untuk membangun stabilitas ekonomi dari dalam.

Presiden meyakini bahwa dengan membangun stabilitas ekonomi sendiri seperti yang pernah dilakukan pada krisis moneter 1998 maka Indonesia bisa mengatasi masalah ekonomi mereka sendiri dan niscaya tidak terpengaruh carut-marut ekonomi yang mengglobal. Himbauan Presiden ini seharusnya turut ditanggapi positif oleh pengusaha dan investor lokal untuk lebih menggiatkan sektor produksi kecil menengah. 

Terbukti  pada tahun 2010, peran UKM terhadap penciptaan PDB nasional menurut harga berlaku tercatat sebesar Rp. 3.466,39 triliun atau 57,12 persen, selebihnya adalah usaha besar (UB) yaitu Rp. 2.602,37 triliun atau 42,88 persen. Pada tahun 2011, peran UKM terhadap penciptaan PDB nasional menurut harga berlaku tercatat sebesar 57,94 persen lebih besar daripada usaha besar (UB) yaitu 42,06 persen.

Sumber : Definisi Emerging Markets (link); Statistik (link); Definisi ekonomi BRICS (link); Statistik UMKM (link)

Comments