Merah Hitam Mahasiswa

Postingan ini turun usai tergelitik membaca postingan salah satu teman favoritku di sini. Dia membahas apa sih arti IP (Indeks Prestasi) dan bagaimana cara menyikapinya. Ada beberapa hal yang perlu ane tambah di sini. Ada beberapa hal yang ternyata tabirnya baru tersingkap setelah ane menjalani kehidupan pra-dewasa, masa kuliahan, masa dimana seorang pemuda-pemudi hanyut dalam fantasi liar idealisme mereka sendiri. Ane juga termasuk. Ane juga sudah pernah membahas bahwa betapa pentingnya angka di rapor atau transkrip untuk mendapat pekerjaan, untuk meraih citra baik dan teladan di mata masyarakat dalam postingan ini. Sekarang ane akan mengungkap merah hitam menjadi bagian dari perguruan tinggi.

Menjadi seorang mahasiswa tentunya menjadi manusia yang dianggap budiman, berilmu dan bermoral. Bagaimana mungkin seorang cerdas cendekia semacam Mahasiswa bertingkah amoral atau bertindak non intelek? Titel mahasiswa yang disandang hanya akan menjadi sampah bukan? Begitulah harapan semua dosen, semua rektor, semua orang tua dan tidak semua mahasiswa. Dengan ini, tentu saja titel mahasiswa itu bisa dibilang beban yang cukup berat.

Apa saja yang kita temui di kehidupan perguruan tinggi? Dosen yang serupa tapi tak sama dengan guru sekolah, pengurusan dokumentasi akademik independen, organisasi pemerintahan yang serupa tapi tak sama dengan OSIS, kelompok kreativitas mahasiswa yang serupa tapi tak sama dengan ekstrakurikuler. Di dunia perkuliahan, siswa diajarkan untuk independen, bebas, radikal dan juga gemar berkonspirasi. Di dunia organisasi pemerintahan misalnya, organisasi tak lagi mudah seperti OSIS di sekolah. Organisasi versi mahasiswa lebih banyak bumbu carut-marut, ego, dan konspirasi karena masing-masing idealis ingin membuktikan visi yang terbaik (dan juga diikuti dengan beberapa kepentingan pribadi).

Sudah merasa tua? Belum? Mari kita lanjutkan, menjadi mahasiswa sudah bukan waktunya menjadi siswa yang tergantung pada server (teman terpintar di kelas) seharusnya, mahasiswa dituntut untuk mandiri. Nilai seharusnya bukanlah patokan yang utama. Buat apa orang tua kita susah-susah mengkuliahkan kita dengan biaya yang cukup tinggi apabila kita tak mau berusaha untuk membuat mereka bangga? Sedangkan beberapa anak yang tak beruntung dan ingin mengenyam pendidikan lebih tinggi justru terkendala masalah ekonomi. Mengapa kita membiarkan otak kita tumpul sementara teman-teman kita yang lain asyik menemukan penemuan baru, asyik mengembangkan teknologi baru, asyik mengembangkan potensi yang mereka miliki. Ada satu kisah menarik tentang seorang mahasiswa di Amerika yang menyesal mendapat nilai sempurna tapi dia tak bisa mengembangkan potensi dirinya yang lain seperti teman-temannya. See? Nilai bukanlah prioritas dear.

Ane juga pernah mengalami dan tentunya ane sangat fasih dengan perasaan kecewa ketika ane mendapat nilai tak memuaskan. Sebab lingkungan keluarga ane menuntut ane untuk selalu menunjukkan yang terbaik. Nyatanya setelah masuk dunia perkuliahan, mencari nilai bagus itu tidak mudah Jenderal! Ada banyak faktor untuk mendapatkan IP 4.00 atau nilai A bulat di kartu hasil studi setiap mata kuliah. Dan hal yang membuat perolehan nilai A bulat begitu sulit adalah kesubjektifan masing-masing dosen, nah lo. Jadi, saudara sekalian memilih yang mana? Nilai A bulat hasil dari menjilat atau nilai mentok B dari upaya saudara sendiri (NB: tanpa nyontek dst).

Tentu saja nilai B dong, kan usaha sendiri. Yakin? Semua manusia menginginkan kesempurnaan, saya tak memungkiri itu. Apalagi jika saudara sendiri mampu menilai hasil kerja keras saudara selama satu semester, pantaskah dapat B? Kecewa? Yak Tul! Hal yang ingin saya tekankan di sini adalah kecewa bolehlah tapi karena saudara telah bekerja keras penuh selama satu semester setidaknya Anda mampu memahami bahan ajar semester lalu. Kecerdasan tak melulu dibuktikan hanya dengan nilai kok, mahasiswa pasti menyadari itu.

Sayangnya entah kenapa bernilai bagus berarti sukses sepertinya sudah menjadi mindset anak-anak negeri ini, padahal ada beberapa orang yang mendapat nilai bagus bukan dari otaknya sendiri tapi dari faktor lain. Untuk mengobati kekecewaan akibat nilai yang jatuhnya tak memuaskan, mari kita ingat-ingat apa yang dikatakan oleh Ranchoddas Chancad "Kejarlah kesempurnaan, maka kesuksesan akan mengikuti" hal ini berarti lakukan apapun semaksimal mungkin, seikhlas mungkin, secerdas mungkin sehingga saudara benar-benar tahu apa yang saudara lakukan sehingga nanti kemudahan akan datang mengikuti.

Lagipula di liang kubur nanti kita tidak ditanyai BERAPA IPMU WAKTU KULIAH? bukan?

Comments