Sains dan Religi

You may be a religious person, but it doesn't mean you're a good person. What makes you good person is how you behave to others.

Gunung Kelud meletus malam hari 13 Februari 2014 kemarin. Gunung yang meletus pada pukul 22.50 WIB ini disinyalir Muslimin radikal sebagai peringatan dari Allah SWT mengenai perayaan Valentine (Hari Kasih Sayang). Banyak bertebaran di media sosial mengenai hubungan waktu meletusnya Gunung Kelud dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Beberapa gambar juga disinyalir mengandung beberapa lafadz Allah. Lantas bagaimana tanggapan ane sebagai seorang Muslimah? Well, ane percaya bahwa di setiap musibah selalu ada yang Tuhan berusaha sampaikan pada kita, umat manusia. Tapi rasanya hal-hal yang dicocok-cocokkan seperti itu membuat ane sebagai Muslimah juga geli sendiri. Tidak hanya sekali, tapi berulang kali kaum Muslimin di negara ini selalu main cocoklogi di setiap kejadian alam seperti ini. Sedikit menggelikan dan lucu sebenarnya.

Ane bukanlah Muslimah radikal juga belum menjadi Muslimah sejati, akan tetapi ane sedang berproses. Dan ane juga bukan Muslimah fanatik, ane lebih suka mengaitkan keyakinan dengan rasio. Sehingga, pasti akan banyak orang bilang bahwa ane ini menuju Atheis yang mendewakan logika. Tidak, kalau menuju Atheis ane rasa tidak, ane malah cenderung ingin membuktikan bahwa sesungguhnya kalamullah benar-benar dapat dibuktikan dengan sains, dengan rasio tidak serta merta wallahu alam saja.

Menurut ane, Tuhan tidak akan memberitakan kita tanpa ada bukti yang nyata kan? Pastinya, semua yang menjadi tasbihnya bisa dibuktikan dengan logika dan sains. Selain itu, dengan tanda-tanda yang sengaja dicocok-cocokan membuat kita Muslimin juga tidak terlihat lebih cerdas, malah terlihat menggelikan. Semua dapat dibuktikan jika kita memiliki data valid dan reliabel bukan? Maka begitulah seharusnya cara kita Muslimin membuktikan perkara Ilahi.

Berbicara mengenai hal lain, kebenaran mutlak memang sulit dijamah di dunia ini. Akan tetapi hanya berbekal kalamullah sebagai laporan penelitian yang valid juga bukan jawaban. Hanya merujuk pada kalamullah saja membuat kita ditertawakan oleh orang dari seberang, untuk itu seharusnya (lagi) kita bisa membuktikan dengan ilmu yang nyata. Dan kembali lagi segala sesuatu yang tertuang dalam Al-Qur'an pastinya bisa dibuktikan secara ilmiah. Sehingga, ane benar-benar memimpikan kaum Muslimin madani yang berbasis ide ilmiah ketimbang sekedar berbicara. Maksud ane di sini, ane mendambakan Muslimin yang mampu membuktikan bahwa kami bukanlah orang-orang yang radikal dan berotak dangkal. Kenapa bukan ane? Karena ane bukanlah peneliti *hiks. Kadang ane sendiri terbersit keinginan untuk menggunakan Al-Qur'an sebagai bahan kajian untuk merumuskan hipotesis dan melakukan penelitian tapi (sekali lagi) ane bukan ilmuwan.

Dan bagi saudara Muslimin ane di luar sana, jika ingin mengajak orang dari seberang mengerti betapa indahnya keyakinan kita, jangan gunakan paksaan, gunakan penjelasan ilmiah/logika yang dapat diterima. Selain itu, menjudge budaya yang tidak sesuai dengan keyakinan kita juga bukanlah hal yang baik. Sebab perilaku kita sendiri melawan budaya tak sesuai itu sendiri sudah termasuk dzalim. Apakah kita harus diam? Tidak, ingatkan saja apabila kita tak didengar maka biarkanlah. Sudah menjadi hak mutlak Allah untuk menilai perilaku seseorang, sudah menjadi hak mutlak Allah untuk menentukan hati seseorang, kewajiban kita sudah gugur tanpa perlu nyinyir atau menghujat orang dari seberang maupun saudara kita sendiri yang melakukan hal yang kita anggap dosa. Siapalah kita berani menyebut orang lain berdosa sedangkan kita sendiri juga masih berlumur dosa?

Dan tulisan ini dibuat berdasarkan fenomena radikal yang semena-mena akhir-akhir ini.

Religion is like a penis, you may have it but you don't have to publicy it

Comments