Resensi Film : DIVERGENT [2014]

Ranah perfilman Hollywood tampaknya tengah gandrung mengusung novel young-adult thriller fantasy macam Hunger Games ke sinema. Usai sudah masa penyihir cilik Harry Potter dan vampir berkilau Twilight kini hadir suguhan film bersetting post-apocalyptic layaknya Hunger Games yang muncul sekitar 2012 lalu, The Mortal Instrument, Beautiful Creatures dan kini Divergent yang memasang bintang baru yang tak kalah menarik dari Jennifer Lawrence, Shailene Woodley.

Divergent, berkisah mengenai kehidupan pasca perang entah yang ke berapa. Awalnya dijelaskan bahwa untuk menjaga perdamaian perlu dibentuk kategorisasi manusia agar mereka selalu dapat berjalan harmonis, dalam dunia Divergent ini disebut faksi. Ada lima faksi yakni Abnegation (The selfless), Amity (The Kind), Erudite (The Smart), Dauntless (The Brave), dan Candor (The Honest). Lakon utama dalam kisah ini adalah seorang gadis dari keluarga sederhana Abnegation, Beatrice Prior dan lebih dikenal sebagai Tris (Shailene Woodley). Pada saat tengah mengambil ujian kepribadian (aptitude test), Beatrice tidak berada di kategori manapun karena dia memiliki karakter dari tiga faksi, Abnegation, Dauntless dan Erudite. Beatrice yang semula bingung menentukan pilihan ke faksi mana Ia akan berada pada akhirnya memilih faksi Dauntless dan membawanya bertemu dengan Four (Theo James).

Kehidupan Tris tidak semudah yang bisa dibayangkan ternyata kelainannya justru mengancamnya. Tak hanya mencemaskan perbedaan dalam dirinya, Tris juga mencemaskan faksinya yang akan mengalami Genosida yang didalangi oleh tokoh Erudite, Jeanine Matthews (Kate Winslet). Usai mengalami beberapa fase inisiasi di faksi Dauntless, Tris akhirnya menemukan orang yang sama seperti dirinya yakni Four. Akhirnya, bersama Four Tris berusaha menyelamatkan faksinya dan berusaha menyadarkan orang-orang bahwa kategorisasi tidaklah berhasil. Sejauh mana usaha Tris memperjuangkan idealismenya? Selanjutnya akan dikisahkan dalam Insurgent dan diakhiri Allegiant.

Awalnya film ini terlihat film underrated semacam The Mortal Instruments, nyatanya film in menyuguhkan kejutan-kejutan dan ketegangan yang dijaga harmonis layaknya Hunger Games. Memang kentara bahwa film ini sebelas-dua belas dengan film adaptasi young-adult pendahulunya, Hunger Games, tapi tetap saja Divergent menyuguhkan sesuatu yang berbeda sekaligus terasa ada sesuatu yang hilang dalam roh plot film ini sendiri. Plot terbilang lamban dan terkesan berputar-putar, akan tetapi penonton tidak dibiarkan merasa bosan karena penulis skenario tahu dimana harus menempatkan adegan yang memacu jantung dan keringat dingin. Kisah roman yang disisipkan pun juga bukan kisah cengeng, lagi-lagi kisah cinta yang penuh perjuangan dan mandiri layaknya Hunger Games. Divergent, meski dalam kisahnya dirasa kurang memuaskan namun membuat penontonnya penasaran. Ditambah lagi Shailene Woodley diramalkan jadi the next internet darling berikutnya.


Plot★ ★ ★ ☆ ☆
Akting★ ★ ★ ☆ ☆
Musik★ ★ ★ ☆ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ½ ☆  

Comments