Berani Reformasi Pendidikan?

Tidak berpendapat bahwa mutu pendidikan di negara ini (Indonesia) jelek, akan tetapi potret pendidikan yang selama ini seliweran di media sudah cukup merangkum bahwa kurikulum pendidikan di negara ini belum layak menyandang predikat TERBAIK. Mengapa berpendapat demikian? Standar kelulusan siswa masih saja menggunakan nilai (re: hasil UN), tidak meratanya fasilitas pendidikan di seluruh hamparan negeri, dan keterbatasan tenaga pendidik untuk sekolah-sekolah di daerah perbatasan.

Sebagai generasi muda bangsa tentu saja pemandangan pendidikan yang kurang layak ini membuat hati miris dan ingin menangis. Pasalnya, negara besar ini masih belum cukup mandiri untuk mencetak generasi gemilang yang menjadi harapan Bangsa di masa depan. Pendidikan yang merata, berkualitas dan unggul akan berefek langsung pada pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial dan kesehatan bangsa.

Apa yang salah? Tolak ukur kemampuan siswa yang berupa hasil ujian adalah kesalahan terbesar yang dibuat oleh Menteri Pendidikan. Setiap siswa memiliki keunggulan dan kemampuan yang berbeda, apabila siswa tersebut dinilai kemampuannya berdasarkan satu tes yang tidak mewakili kemampuan masing-masing siswa maka itu merupakan sebuah ketidak adilan. Berbeda dengan negara dengan kualitas pendidikan nomor satu dunia, Finlandia (berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)), terlalu banyak tes membuat guru cenderung mengajar siswa hanya untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Jadi, reformasi pertama yang dilakukan di dunia pendidikan Indonesia adalah kurangi tes dan ujian, sehingga siswa tidak melulu berfokus pada cara mendapatkan nilai bagus melainkan berfokus pada pengembangan kemampuan yang mereka miliki.




Hal kedua yang perlu direformasi dari pendidikan Indonesia adalah sistem ranking. Memang sistem ranking bertujuan baik yakni memotivasi siswa agar dapat lebih baik dari kawannya, akan tetapi seperti poin yang telah sebelumnya, hasil ujian saja tidak cukup menjadi tolak ukur kemampuan siswa. Ranking pun belum tentu menunjukkan bahwa siswa tersebut benar-benar hebat di kelasnya atau benar-benar tidak mampu di kelasnya. Pembagian ranking juga bisa menjadi beban bagi siswa sehingga siswa yang merasa kurang mampu dan memiliki ranking buruk berusaha menghalalkan segala cara untuk meraih ranking yang tinggi. Hal semacam ini apabila dibiarkan secara tersirat akan membentuk mental culas dan korup generasi muda.

(c) Republika.co.id
Buntut dari adanya persaingan dan kompetisi inilah yang membuat guru tak lagi berlomba-lomba mencerdaskan generasi muda agar siap menghadapi tantangan kehidupan melainkan mempersiapkan murid agar menjadi YANG TERBAIK, YANG TERPINTAR, YANG MEMBAWA PIALA BANYAK KE SEKOLAH. Apa sih arti di balik semua kegemilangan piala itu? Hanya nama baik, nama baik sekolah dan guru. Apa tujuannya? Untuk menarik calon murid yang banyak agar bisa ditodong uang gedung yang harganya selangit. Hasilnya? Siswa Indonesia hanya mampu berpikir teoritis non-komprehensif, bukan praktis komprehensif yang mana lebih berguna di kehidupan membangun bangsa mereka kelak. Tak heran kalau orang-orang bangsa kita cenderung PEGAWAI ORIENTED daripada ENTREPRENEUR ORIENTED.

Apa implikasinya terhadap biaya sekolah di negara kita? Akibat dari kegilaan prestasi dan NILAI BAGUS ORIENTED itulah yang membuat biaya sekolah di Indonesia ini mahal. Sekolah-sekolah dengan prestasi segudang menghasilkan outcome bermanfaat di masyarakat dalam jumlah yang tidak besar, anak-anak dari kalangan miskin dan dhuafa yang berkemampuan tak lagi bisa mengembangkan potensi. Fenomena menggelitik inilah yang seharusnya membuat Menteri Pendidikan sadar dan move on dari stagnasi kurikulum dan sistem pendidikan saat ini.

Kalau saja Menteri Pendidikan mau sedikit melirik ke sekolah-sekolah anak suku dalam dan daerah perbatasan, betapa mereka kekurangan tenaga pendidik serta fasilitas sekolah sedangkan di daerah padat penduduk fasilitas sekolah melimpah. Keterbatasan akses pendidikan oleh anak-anak daerah terpencil inilah yang menambah angka ketimpangan sosial. Mau jadi apa bangsa ini apabila pendidikan bagi generasi muda kita berat sebelah? Apa perlu menunggu bom waktu meledak dan membiarkan kita kehilangan wilayah NKRI lagi? Apabila generasi muda kita pegawai oriented, tidak mengenyam pendidikan dengan baik, maka apa bangsa ini akan selalu mengimpor tenaga kerja profesional asing untuk mengurusi negara? Pendidikan yang terabaikan berefek jangka panjang pada negara ini. Untuk itu Indonesia perlu move on, perlu perombakan sistem pendidikan yang selama ini berorientasi pada teori belaka minim praktik.

(c) http://moch-ilham31.blogspot.com/

Jika pun Menteri Pendidikan tidak mau mengadakan evaluasi lebih lanjut mengenai ORIENTASI NILAI sebagai tolak ukur prestasi siswa, seseorang boleh bermimpi. Bermimpi mewujudkan sekolah gratis (yang tentu saja dananya didapatkan dari donatur) dimana sistem pendidikan tidak berbasis nilai, tugas, dan ranking akan tetapi berbasis teamwork, penelitian, praktik dan kesenangan. Secara sederhana sekolah ini seperti sekolah alam. Meski siswa mengikuti ujian penyetaraan melalui Ujian Nasional, akan tetapi hasil Ujian Nasional tidak akan mempengaruhi mental dan skill yang telah mereka dapatkan dari sekolah alam tersebut.

Hanya dengan tulisan blog ini, semoga Menteri Pendidikan berkenan melakukan evaluasi terhadap efektivitas dan efisiensi Ujian Nasional berbasis NILAI. Semoga pendidikan Indonesia lima tahun mendatang akan menjadi lebih baik dan bahkan UNGGUL. Semoga akademisi, guru dan siswa Indonesia menyadari bahwa tak selamanya prestasi dapat diukur lewat deretan angka di rapor dan torehan ranking di papan pengumuman.



Comments