Indonesia Move On, Indonesia Lebih Baik

Frasa move on akhir-akhir ini memang tengah ngetren, terutama bagi para pemuda-pemudi galau. Bahkan kata move on sendiri memiliki popularitas yang sebanding dengan kata galau yang marak wira-wiri di dunia maya beberapa tahun terakhir. Move on adalah melanjutkan hidup, meninggalkan masa lalu atau apapun yang bisa kita sebut untuk memulai awal baru yang jauh lebih baik dari yang baru saja kita lalui. Oleh karena itu, penggunaan kata move on pada Indonesia move on berarti perubahan pada bangsa kita bangsa Indonesia.

Memang ada apa dengan Indonesia?
Mari kita tarik kembali ingatan kita selama lima tahun terakhir, apa saja yang telah terjadi di negara ini? Kasus korupsi yang menjamur, gaya hidup konsumtif yang menjadi kultur, derasnya desakan budaya asing yang meracuni pola pikir generasi muda dan berbagai hal yang bisa kita anggap sebagai kemunduran.

Kemunduran bagaimana? Bukannya prestasi Indonesia di kancah Internasional sudah cukup bagus?
Bagus dalam beberapa hal, dalam beberapa bidang. Nyatanya, antara prestasi dan keburukan justru lebih banyak porsi kebobrokan bangsa kita. Menempati peringkat atas negara terkorup merupakan sebuah prestasi? Apakah melakukan impor barang pokok (beras, buah, sayur) yang lebih besar ketimbang impor adalah sebuah pencapaian luar biasa? Bahkan, rasanya bangsa ini tak lagi mampu menjual produksi ke luar. Yang bisa kita lakukan hanya impor. Impor makan, impor minum, impor hiburan, sampai yang paling parah impor budaya.

Tingkat impor yang tinggi ini tidak sebanding dengan kesejahteraan sosial, kesehatan, dan pendidikan bagi kaum miskin/dhuafa. Yang kaya semakin kaya dan semakin bangga mengenakan barang impor, yang miskin semakin miskin dan tak mampu berbuat apa-apa karena tidak punya uang. Sudah bukan rahasia lagi kalau apapun di negara ini butuh uang. Kesehatan kalangan miskin menurun akibat biaya kesehatan tak terjangkau, anak-anak cerdas dari golongan kurang mampu tak bisa lanjutkan pendidikan karena tak punya modal, kesenjangan sosial dari kasta tinggi dan rendah semakin kentara jelas. Dan para petinggi saat ini tengah mencari muka untuk mendapatkan suara dari kaum miskin (yang tentu saja hanya akan berlangsung selama masa kampanye).

Lantas apa yang bisa kamu lakukan? Toh kamu cuma bisa omong doang
Saya akui saya tak bisa melakukan apa-apa. Saya tidak bisa mengubah kesenjangan sosial, ketidakmerataan pendidikan dan kesehatan bagi kaum dhuafa ini sendirian. Saya butuh bantuan dari saudara-saudara sekalian, saudara sebangsa dan setanah air. Lewat apa? Lewat pemikiran blog ini. Mari kita bersama-sama mengubah Indonesia dari diri kita sendiri. Mari kita bersama-sama membantu kaum dhuafa mendapatkan hak pendidikan dan kesehatan mereka.

Bagaimana caranya?
Yang pertama, mari kita tutup Facebook kita dan bergabung dalam komunitas sosial. Bisa jadi komunitas seperti organisasi masyarakat yang benar-benar bertujuan untuk kegiatan sosial bukan organisasi yang disetir oleh golongan politik tak bertanggung jawab. Atau bisa jadi komunitas yang bergerak di bidang kesehatan seperti PMI, bahkan hanya dengan donor darah pun kita sudah ikut andil dalam bidang kesehatan. Atau bagi calon guru, kita bisa bergabung dalam program SM3T sebagai bentuk kepedulian kita di bidang pendidikan bagi mereka yang kurang beruntung dan berada di tempat yang tak terjangkau.

Bagi mbak-mbak, mas-mas atau adik-adik mari kita move on dengan cara mulai bisa memfiltrasi budaya yang perlahan-lahan meracuni ideologi kita. Kurangi Korean Wave, kurangi liberalisme Barat yang bersifat negatif, kurangi paham fanatisme terhadap golongan tertentu. Mari kita kembali pada apa yang mempersatukan kita, BHINEKA TUNGGAL IKA.

Mari kita ingat kembali pada kaum dhuafa yang susah mencari makan ketika kita ingin membuang-buang makanan atau ketika kita ingin membelanjakan seluruh uang kita hanya untuk makan. Mari kita berbagi ilmu pada sesama agar ilmu kita lebih barokah, apabila pendidikan Indonesia kita lebih baik bukankah kita sendiri yang merasakan dampak positifnya?

Mari kita kurangi impor dan perbanyak ekspor, mari jadikan diri kita produktif agar kita bisa menjadi bangsa penghasil, agar kita mampu meraih kejayaan Orde Baru yakni menjadi macan Asia. Ironis sekali apabila negara Agraris ini kini hanya mampu melakukan impor dari negara lain yang mana bibit sebenarnya adalah bibit dari tanah kita sendiri. Mari kurangi posting blog yang kurang bermanfaat, mari tingkatkan posting blog yang membangun dan berguna bagi sesama.

Sesuatu yang bermanfaat memang tidak langsung dilakukan pada hal besar, namun semua bermula dari hal kecil seperti postingan blog ini. Demi Indonesia lebih baik, demi keadilan sosial, pendidikan dan kesehatan beranikah kita move on dari era kemunduran ini?

Comments