Viva Der Panzer!

Postingan ini hanya curhat belaka mengenai karakter, cerita dan waktu yang sama itu merupakan kesengajaan dan bukan rekayasa.

Ane seorang mahasiswi yang kini berusia sekitar 20 tahun. Apa yang membuat ane istimewa? Tidak ada, hanya saja kali ini ane ingin berbagi cerita mengenai hobi ane. Hobi ane terhadap sepakbola sejak ane duduk di kelas 4 SD.

Der Panzer won World Cup 2014

Well, perhelatan Piala Dunia 2014 memang telah usai lewat seminggu yang lalu. Bagi fans Der Panzer (terutama ane) Euforia kemenangan Jerman masih begitu terasa. Apalagi Tim Kesayangan akhirnya membawa pulang Piala emas paling bergengsi di jagad sepak bola. Bukan sombong juga bukan bermaksud pamer, sejak dua belas tahun lalu ane memang sudah jatuh hati pada salah satu tim dari Eropa Barat itu. Tak perlu alasan yang rumit, seorang Miroslav Klose lah yang membuat ane menambatkan dukungan ane pada tim bernama lain Die Mannschaft itu.


Ane gak munafik, dengan segala kepolosan ane emang dulunya ane menahbiskan diri menjadi supporter tim Jerman karena kegantengan Om Klose di Piala Dunia 2002 Korea-Jepang. Waktu itu Om Klose masih berusia 24 tahun dan gantengnya Subhanallah!! Belum lagi pertandingan pertama Jerman yang ane tonton waktu itu bisa dibilang SANGAR! Sangar kenapa? Pada saat itu, Jerman membantai Saudi Arabia 8-0. Pertandingan pertama yang makin membulatkan keputusan ane untuk mendukung negara Michael Ballack.

Miroslav Klose - Cinta Pertama Timnas Jerman

Seiring waktu, kecintaan ane pada tim Jerman semakin menjadi meski akhirnya Jerman hanya mampu finish sebagai runner up di PD 2002. Bagaimanapun juga, selemah-lemahnya Jerman mereka selalu berhasil menembus babak semifinal. Oleh karena itu, tim kesayangan ane ini berjulukan "Tim Semifinalis".

Ane cukup menyesal pada waktu Jerman bermain di kandang mereka sendiri pada PD 2006 ane justru tak dapat memberikan dukungan sepenuhnya pada tim asuhan Juergen Klinnsmann. Pasalnya waktu itu ane tidak punya TV di rumah, namun untungnya sekolah ane (waktu itu sudah masuk SMP) memiliki TV di masing-masing ruang kelas. Sehingga ane bela-belain datang pagi-pagi sekali ke sekolah hanya untuk menonton highlight pertandingan PD 2006 yang disiarkan di berita olahraga, mengenaskan! Pada saat itu pula ane jadi tidak mengikuti perkembangan permainan Tim Panser ini atau siapa bintang mudanya yang melejit waktu itu.


Baru pada Euro 2008 dan PD 2010 ane kembali mengikuti perkembangan sepak bola Jerman, dari situ ane mulai kenal nama-nama besar seperti Oezil, Schweinsteiger, Lahm dan Muller. Sayangnya waktu itu kegandrungan ane masih belum mendapat support lebih dari orang-orang sekitar ane jadi ane hanya tahu nama pemain dan gaya bermain Jerman yang mengalami banyak perkembangan meski pada akhirnya Jerman selalu kalah dengan tim yang memiliki gaya bermain fleksibel seperti Spanyol atau gaya bermain bertahan seperti Italia.

Mencintai Jerman tak pernah sebanyak ini.
Di PD 2014 Brazil ini lah ane benar-benar mencari tahu lebih banyak mengenai kekuatan dan kelemahan Tim Jerman. Di PD 2014 ini ane benar-benar jeli melihat permainan individu punggawa timnas Jerman, salah satu faktor yang menyebabkan ane semakin matang melakukan analisa adalah semakin berkembangnya informasi yang ane miliki mengenai Jerman dan juga lawan diskusi sepakbola yang pas (re:pacar). Bahkan dari teman diskusi ane itupun ane menyadari bahwa skuad muda Jerman memang ganas dan berbahaya, belum lagi usia mereka yang masih terbilang muda akan membuat mereka semakin matang nantinya bahkan untuk PD 2018 di Russia nanti.

Penantian selama 12 tahun pun terpenuhi, akhirnya Tim yang menurut ane Tim terkuat memenangi ajang sepakbola termegah dan terbesar di dunia. Tim kesayangan ane berhasil melakukan revans sempurna atas tuan rumah yang dulunya pernah mengalahkan mereka di partai final PD 2002 dengan skor telak. Jerman membuktikan bahwa kerja keras mereka selama ini tak berakhir sia-sia, mereka hanya kehilangan keberuntungan. Tahun 2014 ini merupakan tahun Jerman, dimana keberuntungan, hasil kerja keras, bakat dan semangat mereka menebus asa mereka meraih gelar ke-4 setelah 20 tahun berselang.

Satu hal lagi yang membuat ane semakin menggilai timnas Bavaria ini adalah munculnya anak muda berbakat yang bakal bersinar terang untuk beberapa tahun mendatang, si Gelandang Serang Toni Kroos. Kroos yang saat ini berusia 24 tahun dan baru saja ditransfer ke El Real digadang-gadang akan menjadi sentris utama di area lapangan tengah Timnas Jerman. Kroos memang raja passing minim gol, akan tetapi posisinya sebagai gelandang serang dan bakat komplitnya diprediksikan akan membuat Kroos menjadi semakin matang di PD 2018 nanti. Ich liebe dich, Toni!



Sebagai fans die hard yang tak pernah memiliki sebiji jersey kebanggaan Jerman, ane sungguh sangat berharap skuad muda (re:generasi emas) Jerman tak hanya berhenti sampai di sini. Beberapa pakar sepakbola memang meramalkan skuad Jerman akan meraih prestasi yang gemilang dari Euro 2016 mendatang hingga PD 2018 mendatang, akan tetapi semoga Jerman tak dengan mudahnya meremehkan lawan mereka di masa-masa yang akan datang. Negara-negara seperti Prancis (yang mulai bermain apik lagi), Belanda (calon kompetitor terberat Jerman), dan Spanyol (juara bertahan) akan membenahi kekurangan mereka di PD 2014 kemarin. Meski punggawa timnas Jerman yang memenangi turnamen empat tahunan ini mulai berusia senja, Schweini, Poldi, Mertesacker (class of 2006) dan sang kapten mungil Philipp Lahm pensiun semoga Muller, Neuer, Goetze, Kroos dkk mampu mempertahankan gelar juara bertahan mereka empat tahun mendatang, tidak seperti Spanyol yang kandas memalukan di babak penyisihan Grup. Ayo Panzer tunjukkan pada dunia bahwa kau memang digdaya! Viva Der Panzer.

(image source: FIFA official Website)

Comments

  1. faktor yang paling kentara adalah jerman punya neuer yang merupakan titisan bodo illigner :)
    tapi sehebat apapun jerman kalo ketemu italia atau spanyol gak bakal jadi juara :D

    ReplyDelete
  2. sehebat apapun jerman mereka tidak akan bisa juara kalo ketemu italia, contohnya tahun 1970, 1982, 2006, 2012. itu semua karena tradisi permainan, jerman dari dulu mainnya tetap seperti itu sedangkan italia juga tetap catenaccio :D
    bisa di bilang azzurri lah sang penakluk raksasa eropa ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. "pada akhirnya Jerman selalu kalah dengan tim yang memiliki gaya bermain fleksibel seperti Spanyol atau gaya bermain bertahan seperti Italia." Saya pribadi juga beropini seperti itu karena meski serangan Jerman saat ini lebih mematikan gaya permainan mereka akan dapat dikalahkan oleh gaya bermain fleksibel seperti Spanyol atau bertahan seperti Italia. Beruntungnya, Jerman tidak berada dalam satu grup dengan Spanyol dan Tim Italia tidak mengalami regenerasi. Satu-satunya kompetitor terkuat Jerman dua tahun ke depan adalah Belanda

      Delete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)