Review Film : Guardians of The Galaxy [2014]

Pecinta Marvel? Fans The Avenger? Tak sabar menanti sekuel The Avenger selanjutnya? Marvel memberi kamu sekalian sebuah suguhan di penghujung musim panas, Guardians of The Galaxy. Seolah tak kehabisan ide, Marvel berani mengangkat komik underrated dalam Marvel cinematic Universenya. Digadang-gadang seperti komik underrated sebelumnya, Iron Man, GoTG diharapkan mampu menarik fans sebanyak-banyaknya.

Kisah bermula ketika Peter Quill (Chris Pratt) ditinggalkan Ibunya untuk selama-lamanya. Tak ada badai menghadang juga tak ada aral melintang, Peter diculik oleh bangsa Ravager (koloni penjahat, perampok dan berbagai kriminal) pimpinan Yondu (Michael Rooker). Dua puluh enam tahun lamanya Peter hidup di ruang angkasa bersama makhluk penghuni alam sana.

Suatu ketika, Peter mencuri sebuah Orb (bola) berisi Batu Abadi yang menjadi rebutan para petinggi politik galaksi, salah duanya Thanos dan Ronan (Lee Pace). Seperti batu yang lain semacam tesseract atau aether, Orb yang dicuri Peter juga memiliki daya hancur yang luar biasa besar. Mau tidak mau Peter harus memerankan bagiannya menjadi superhero di antara para alien.

Tak sendiri, Peter dibantu oleh tangan kanan Ronan yang sengaja berkhianat Gamora (Zoe Saldana). Situasi tak menyenangkan pada akhirnya mempertemukan Peter dan Gamora dengan duo Rocket Raccoon (Bradley Cooper), si musang bawel dan pohon ramah bernama Groot (Vin Diesel). Dalam film ini, pegulat lain dari WWA juga kebagian peran sebagai Drax (Dave Bautista), napi yang memiliki dendam tersendiri pada tokoh antagonis franchise GoTG.

Film ini lucu dan menghibur! Layaknya garapan Marvel yang lain, joke segar, kebodohan lakon utama, grafis dan visual yang mewah begitu memanjakan penonton. Harapan Marvel untuk menarik fans dari film ini juga tidak sia-sia. James Gunn sebagai sutradara berhasil mengantarkan GoTG menjadi film layak ditonton dan ditunggu oleh penggemar Marvel di seluruh penjuru dunia.

Istimewanya lagi, tak seperti film Marvel kebanyakan yang minim soundtrack dan adegan dramatis. Film ini seolah sengaja dibuat seperti parodi dan diisi dengan tembang-tembang pop tahun 80an sebagai pengiring musik di dalamnya. Kalau boleh jujur, lagu yang menjadi soundtrack film ini easy listening dan recommended untuk didengarkan. Hal lain yang menambah keistimewaan film ini adalah gaya pengambilan gambar yang kadang-kadang terlihat seperti tahun 80an juga, tak ubahnya seperti melihat Star Wars sebelum era millenia datang.

Meski pujian datang bertubi-tubi, sejujurnya plot film cenderung sederhana dan dapat ditebak. Film yang sengaja dibuat ringan ini juga tak lupa menyisipkan beberapa adegan mengharukan meski minim dramatisasi. Dramatisasi yang disebutkan sebelumnya adalah dramatisasi komedi. Well, film ini sepertinya memang dibuat untuk anak-anak. Oh ya, sebagai penggemar Avenger dan Marvel, film ini termasuk film yang wajib ditonton sebab ceritanya masih mengandung benang merah yang menghubungkan keseluruhan Marvel cinematic universe. Lagipula sayang sekali melewatkan Guardians of The Galaxy.

P.S : Ingat film Marvel, selalu ingat bonus scene.

Plot★ ★ ★ ½  ☆
Akting★ ★ ★ ★ ☆
Musik★ ★ ★ ★ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ★  ☆   

Comments