Resensi Buku : The Maze Runner


Judul : The Maze Runner
Pengarang : James Dashner
Tebal : 477 Halaman
Penerbit : Mizan Fantasi

Setelah euforia Hunger Games dan Divergent, muncul lagi buku bergenre young adult post-apocalyptic yang baru-baru ini diangkat ke layar lebar, The Maze Runner. Sebagai seorang penggemar fiksi fantasi, tentu saja buku dengan tokoh utama Thomas ini tak luput dari perburuan. Mulanya hanya tertarik pada cerita yang ada di film, lama-lama gairah kutu buku kembali menghinggapi diri sehingga mau tak mau ingin juga mengoleksi buku karya James Dashner ini.


Cerita berfokus pada Thomas, seorang anak cerdas yang dikirim ke Glade sama seperti anak-anak lelaki lainnya. Meski menggunakan sudut pandang orang ketiga, rasanya James terlalu Thomas-sentris, maklum karena tokoh yang diplot sebagai pemeran utama adalah Thomas. Thomas datang sebagai Anak-Bawang (Greenie) di Glade. Di sana dia bertemu dengan anak laki-laki dari berbagai ras dan kepribadian. Berkat rasa ingin tahunya, Thomas cepat belajar mengenai kehidupan di Glade. Rasa ingin tahunya itu pula yang membuatnya bercita-cita menjadi seorang Runner (Pelari).

Thomas tidak seperti anak-anak lain yang serta merta pasrah akan takdir mereka terjebak dalam tembok beton raksasa, Thomas merasa ada sesuatu yang tidak beres mengenai penempatan mereka di dalam tembok-tembok besar itu, yang ternyata adalah Maze raksasa. Thomas yakin pasti ada jalan keluar di luar sana hanya saja belum ditemukan. Seminggu setelah hadir di Glade, seorang anak gadis dikirim. Dia bernama Teresa dan memiliki kemampuan khusus yang hanya dimilikinya dan Thomas. Ternyata kedatangan Thomas dan Teresa semakin membuat pola hidup Gladers kacau, mau tidak mau suka tidak suka mereka harus menemukan jalan keluar dari Maze.

Hampir sama seperti kisah fiksi fantasi lainnya, deskripsi dan narasi dalam buku ditulis panjang-panjang. Hal imajinatif tak akan dapat dibayangkan tanpa detail bukan? Meski begitu, di antara narasi dan deskripsi, dialog yang dibangun oleh James Dashner begitu kuat sehingga dialog itu pun mendukung segala deskripsi dan narasi.

Plot cerita dari bab ke bab selalu dikemas dengan akhir yang menegangkan sehingga sampai buku habis pun rasanya tidak ada jeda bagi pembaca untuk merasa rileks. James cukup ahli meramu adegan-adegan yang sekiranya menguras adrenalin. Hal ini membuat versi buku jauh lebih baik ketimbang versi film. Kekurangan James adalah ketidak mampuannya menggambarkan cerita dari sudut pandang selain Thomas, misalnya adegan bagi para Kreator dan hal ini yang membedakan penulis cerita fantasi lain dengan seorang J.K Rowling yang mampu menjelaskan apa saja yang terjadi di balik punggung Harry Potter. But well, as another fictional fantasy genre I love this book not much as I like Harry Potter.


Rating : ★ ★ ★   ☆

Comments