Marriage


Pernah gak sih throwback ke masa lalu dan mengingat-ingat idealisme lucu yang berserabutan di otak kita pada waktu kita masih polos dulu? Saya seringkali mengingat-ingat ide dan rencana yang saya buat dulu waktu masih sekolah. Mengingat rencana indah saya membuat saya tersenyum sendiri, entah itu senyum pahit, getir, asam atau manis. Satu hal lagi yang membuat saya tergelitik untuk menuliskan hal ini dalam blog ini yakni perkataan seseorang. Dia bilang bahwa lima tahun sejak 2010 (yang berarti tahun ini, 2015) dia berencana akan menikah atau lebih tepatnya TELAH menikah.

Menikah, kalau ingat usia saya masih 17 tahun saya pernah berkata seperti ini "Saya akan menikah pada umur 21 tahun. Agar bisa seperti Ibu Saya, ketika anak Saya dewasa kelak Saya masih muda." Lima tahun lalu saya berangan-angan membangun rumah tangga di usia yang masih sangat muda, ya tentu saja 21 tahun adalah usia yang masih sangat muda. Tahun ini, tepatnya bulan depan saya akan menginjak usia 22 tahun dan saya masih belum menikah. Ini berarti target saya lima tahun lalu tidak tercapai bukan?

Kalau diingat-ingat lagi, dulu saya menganggap menikah itu perkara gampang. Menikah ya urusan Saya dengan suami saya saja. HANYA SAYA DAN SUAMI. Masalah bisa masak itu gampang, padahal hingga saat ini saya baru bisa masak masakan yang mudah-mudah saja. Saya juga beranggapan bahwa nanti ketika usia Saya 21 tahun saya sudah mapan, sudah siap menimang anak dan lain-lain. Nyatanya? Hingga saat ini Saya masih duduk di bangku kuliah, bersiap memperjuangkan Skripsi, dan belum memiliki penghasilan tetap. Meh! Nikah gundulmu.

Begitu banyak sumber bacaan, artikel dan opini bertebaran di internet yang semakin membuat Saya tertarik untuk menikah muda. Bahasanya yang begitu persuasif lagi-lagi menyempitkan pikiran Saya atau memang pikiran Saya masih sempit. Mereka bilang, dengan menikah rejeki akan semakin lancar. Dengan menikah mereka bilang mengerjakan skripsi semakin mudah. Dengan menikah, mereka bilang pahala semakin berlimpah. Well, beberapa poin sebelumnya memang benar adanya tapi apakah saat ini Saya siap untuk menikah?

Ternyata menikah bukanlah perkara yang mudah. Pernikahan yang semula menurut pandangan saya hanya urusan Saya dan Suami kini tidak semudah itu. Menikah itu menyatukan dua keluarga, melebur ego, dan mau mengabdi pada Suami tercinta. Dengan sifat seperti saat ini, kondisi psikologis seperti saat ini dan impian yang telah saya rinci Saya tidak yakin Saya akan siap mengarungi bahtera rumah tangga dalam waktu dekat. Ternyata ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menikah dan menikah tidak sesederhana pikiran saya di usia 17 tahun.

Kata orang, menikah itu perkara tindakan. Jadi dijalani saja, jangan dipikirkan terus. Nah, berhubung Saya ini termasuk orang yang sedikit terorganisir dan terencana jadi saya tidak mau ujug-ujug menikah sementara hidup setelah pernikahan carut-marut tak keruan. Menurut saya menikah itu perencanaan yang matang, menyatukan visi dan misi bersama pasangan, dan tentu saja saling menghargai serta menjunjung tinggi komitmen.

Menikah ternyata juga butuh modal, apa modalnya? Modal rumah setidaknya, tidak mau kan setelah menikah dikejar-kejar uang kontrakan dan berpindah-pindah rumah? Saya telah mengalami hal ini sebab orang tua Saya belum memiliki hunian tetap selama 19 tahun dan terus terang berpindah rumah itu melelahkan. Menikah juga butuh modal fisik dan mental. Sudah siapkah raga kita melayani suami sepenuh hati? Sebenarnya kalau masalah fisik dapat diatasi dengan mudah. Hal yang berkaitan dengan fisik dapat dilatih dan dibiasakan. Mengenai masalah mental? Berbeda cerita.

Sebagai seorang anak kuliahan, ekspektasi orang tua sendiri telah membuat Saya bertanggung jawab untuk membuktikan bahwa perjuangan mereka menguliahkan Saya tidak sia-sia. Artinya, selesai kuliah Saya tidak serta merta diperbolehkan menjadi istri seseorang melainkan Saya harus memiliki penghasilan terlebih dahulu. Hal ini tidak menjadi beban bagi Saya karena Saya sendiri juga tidak ingin menjadi Ibu Rumah Tangga saja, pasti ada peran lain yang harus saya lakukan.

Menikah juga membuat Saya sedikit takut karena Saya harus mulai terbiasa dengan orang asing, yang berarti adalah keluarga calon pasangan. Jujur saja, kemampuan Saya berkomunikasi dengan orang asing sangatlah payah. Saya hanya takut apabila nanti ketidakcocokan bukan timbul dari diri saya dan pasangan, akan tetapi dari saya dan keluarganya. Melumerkan ego dan mengorbankan cita-cita bukanlah hal yang saya harapkan dari pernikahan.

Jadi, Saya yang dulu dan Saya yang sekarang berbeda 180 derajat. Jika dulu Saya begitu memimpikan untuk menikah muda, hari ini Saya akan berpikir seribu kali untuk menikah muda. Masih ada begitu banyak hal yang ingin Saya raih dan perjuangkan. Meski begitu, mungkin saja ketika waktu yang tepat telah datang Saya telah menikah dengan seseorang.

Comments