Review Film : The Scorch Trials [2015]

WARNING!! REVIEW INI PENUH DENGAN SUBJEKTIFITAS

SEGERA CLOSE TAB APABILA TAK KUAT MEMBACA ULASAN


Setelah lewat satu tahun tidak berjumpa dengan aktor yang terkenal di TEEN WOLF, Dylan O. Brien, kini dia hadir kembali di bioskop kesayangan dalam kisah lanjutan franchise The Maze Runner yang diadaptasi dari novel karya James Dashner. Well, sebenarnya tanggal rilis di Amerika Serikat masih kurang seminggu. Berhubung orang Indonesia konsumtif dan para pemilik 21 menganggap installment lanjutan TMR ini akan menghasilkan keuntungan oleh sebab itu tanggal rilis di Indonesia lebih cepat seminggu daripada negara asalnya.

Sebelum membaca review lebih lanjut, alangkah lebih baik jika membaca pre-caution dari penulis. Penulis ingin menyampaikan beberapa poin yang amat subjektif dan membandingkan keseluruhan plot film dengan buku, jadi bagi yang belum membaca buku diharapkan skip saja review ini. Sementara itu, bagi yang sudah membaca buku boleh ikutan komentar atau menyanggah pandangan-pandangan subjektif penulis. Meski penulis telah berkali-kali mengulas film dalam blog ini, tetap saja setelah menonton film ini penulis gatal untuk berpandangan subjektif (yang secara kebetulan jarang sekali dilakukan oleh penulis). Bagi yang belum menonton ulasan sebelumnya silahkan klik ini.

Setelah diselamatkan oleh sekelompok tentara yang mengaku melawan WICKED di akhir episode pertama, Thomas tiba di penangkaran anak-anak kebal di kota antah berantah. Penangkaran ini berbeda jauh dari Glade, tak ada labirin dan tak ada pemondokan. Penangkaran ini lebih tepat disebut sebagai base militer karena berbagai macam tank dan amunisi berada di sana. Tentu saja review ini tak berkisah mengenai penangkaran saja, jadi mari persingkat. Thomas (Dylan O. Brien) dkk sempat diberi harapan palsu oleh pengelola penangkaran, Janson (Aidan Gillen). Janson mengaku berseberangan paham dengan WICKED, musuh yang paling dibenci Thomas. Thomas merasa sedikit lega karena dia berada di bawah perlindungan orang yang tepat.

Tapi tak bertahan lama ketika Aris (Jacob Lofland) membawa Thomas berkeliling penangkaran lewat saluran udara. Melihat kengerian yang sebenarnya, praduga negatif Thomas terbukti benar. Mengetahui hal buruk itu Thomas segera memberitahukan pada teman-temannya, Newt (Thomas Sangster) dan Minho (Ki Hong Lee). Namun Newt dan Minho tak serta-merta percaya, mereka menganggap Thomas terlalu paranoid dan mereka merasa telah mendapatkan kenyamanan yang tidak didapatkan di Glade sebelumnya. Akan tetapi, Thomas dan Aris pada akhirnya berhasil mengajak Gladers yang tersisa untuk segera pergi dari base militer itu, tak ketinggalan Teresa (Kaya Scodelario).


Setelah berhasil kabur, mereka pergi ke padang pasir yang sebelumnya adalah kota berpenghuni, SCORCH. Tempat ini disebut Scorch karena tak ada lagi yang berada di sana kecuali gerombolan Crank, sebutan Zombie yang mengidap virus Flare. Gerombolan yang dipimpin Thomas ini tak dibiarkan kabur begitu saja oleh Janson, tentu saja mereka masih dikejar-kejar. Untuk apa? Karena Janson sebenarnya adalah antek WICKED. Thomas yang pada awalnya tak punya tujuan, akhirnya mendapatkan sebuah ide yang mengantarkannya menemui Brenda (Rosa Salazar) dan Jorge (Giancarlo Esposito). Dari pertemuan itu, kesamaan tujuan Brenda dan Jorge serta Gladers plus Aris berubah menjadi petualangan sekaligus pelarian dari Janson.

Bagi penyuka film daripada buku, keputusan kalian untuk menonton film ini tanpa membaca bukunya adalah tepat. Bagi pecinta buku, tutup saja bukunya dan tonton saja filmnya. Dengan improvisasi cukup berlebihan, plot yang disajikan di film hampir 180 derajat berbeda dengan buku. Bahkan rasanya hanya adegan saja yang diambil dari buku tapi intisari cerita tidak. Penggambaran karakter pun tak terhindar dari improvisasi ini. Sayangnya meski diimprovisasi, karakter pembantu seperti Newt dan Minho tidak mengalami perkembangan padahal dua karakter ini dikembangkan di buku. Sebenarnya tokoh Newt dan Minho dapat dieksplorasi lebih jauh lagi, terutama Newt yang diperankan oleh Thomas Sangster, akting dia berkembang signifikan dalam film ini. Kemunculan tokoh baru yang seharusnya penting juga tidak berpengaruh lebih pada film ini, bahkan terkesan diabaikan. Padahal tokoh itu benar-benar penting di kelanjutan cerita berikutnya.

Sejujurnya tensi ketegangan yang disuguhkan di layar lebar jauh lebih terasa daripada di buku. Sutradara Wes Ball benar-benar menjaga ketegangan dengan baik dan menyampaikannya dengan baik pula, tidak lebih tidak kurang. Selain ketegangan yang lebih banyak dihadirkan bahkan melebihi film perdananya, efek grafis dan racikan musik juga tak kalah bagus. Satu-satunya handicap bagi installment kedua ini adalah karakter yang kurang berkembang dan alur cerita yang menjauh dari novel. Pertimbangan penulis skenario mungkin karena cerita di buku lebih tidak masuk akal pada akhirnya (Death Cure) jadi sekalian dirombak saja di episode dua Maze Runner ini. Oh ya, terdapat satu lagi kekurangan yakni ending yang anti klimaks. Mengapa anti klimaks? Setelah diberondong oleh adegan-adegan yang membuat telapak tangan berkeringat, haruskah resolusi film dibuat seperti itu? Dan entah kenapa dialog antar karakter di ending film terasa terlalu berlebihan dan tidak natural.

Harapan lain yang ingin disampaikan untuk film pamungkas, The Death Cure adalah JANGAN ADA LAGI PART I atau PART II, cukup bikin satu part dan berhenti memikirkan uang. Karena telah dibuktikan oleh Mockingjay dan Breaking Dawn bahwa pembagian part apabila tak perlu hanya akan berakhir sia-sia dan mengecewakan. Jadi, tolong jangan kecewakan penikmat trilogi The Maze Runner (lagi) karena kami telah dikecewakan oleh buku ketiganya yang membosankan dan tidak logis.


Plot★ ★ ★ ☆ ☆
Akting★ ★ ★ ☆ ☆
Musik★ ★ ★ ★ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ☆ ☆   

Comments