Say! Alhamdulillah!!


Hari ini, tanggal 21 Desember 2015 termasuk salah satu hari berharga dan (mungkin) tak terlupakan bagi penulis. Sebab hari ini penulis melaksanakan sidang SKRIPSI, Iya! Sidang Skripsi! Yang kata banyak orang serem. Apakah sidang skripsi seserem itu? Ane rasa tidak ya, meski yah hari ini performa ane sendiri engga begitu bagus. Bahkan seorang teman ane yang kenal cukup lama (karena sekelas) dan cukup dekat (kurang lebih setengah tahun terakhir) berkata, "Gis, hari ini kamu gak kayak kamu biasanya deh. Kamu kelihatan gak yakin dan gak tegas, jawabanmu banyak a e a e-nya. Keliatan banget kalau kamu nervous." Well, memang benar adanya namun sebelum membahas sidang skripsi yang baru saja selesai lebih baik ane ceritakan perjalanan ane mengerjakan skripsi yang dianggap sebagai musuh mahasiswa tingkat akhir.

Semester 7 telah dimulai dan satu resolusi ingin sekali dicapai oleh penulis di semester 7 ini yaitu LULUS! Padahal penulis sempat putus asa karena hampir tidak dapat mencapai resolusi ini di ujung tahun. Sebetulnya pendaftaran ujian skripsi telah ditutup pada akhir November namun Tuhan menggariskan hal lain, untuk kesekian kalinya Tuhan memberikan jalan bagi penulis untuk mewujudkan salah satu resolusi tahun ini. Tuhan benar-benar Maha Baik, Maha Asyik. Segala hal sehubungan dengan wisuda, kelulusan, skripsi dan yudisium dimudahkan olehnya.

Tidak seperti beberapa teman seperjuangan penulis yang lain yang telah memulai bimbingan terlebih dahulu dengan kata lain curi start, penulis memulai bimbingan tepat ketika minggu pertama perkuliahan dimulai. Penulis memiliki ide yang sangat bagus untuk dijadikan sebuah penelitian, apa daya ide itu ditolak dengan alasan TERLALU SEDERHANA oleh dosen pembimbing. What? Ide itu hanyalah satu-satunya ide yang telah dieksplorasi penulis sedemikian rupa dan langsung ditolak. Sejujurnya penulis tak lagi punya judul lain untuk diajukan pada dosen pembimbing. Ketika dosen bertanya, punya judul lain? Penulis menjawab sekenanya, Behavioral Finance pak.


Memang sejak semester 5 penulis tertarik meneliti behavioral finance karena terinspirasi oleh disertasi salah seorang dosen lainnya. Wah menarik nih kalau ambil behavioral finance karena di sini (Universitas Penulis) belum ada yang meneliti. Sebatas itu research question which I gathered. Tapi penulis sama sekali tidak memiliki latar belakang atau ide apapun atau variabel mana yang lebih baik diteliti. Walhasil dalam kondisi kalut pasca-penolakan judul, penulis berkonsultasi pada dosen sang pembuat disertasi behavioral finance. Tak banyak jalan keluar sebenarnya, meski demikian penulis beruntung disambut beliau dengan sangat baik dan penulis menjadi sedikit termotivasi dan tercerahkan.

Urusan judul pun beres, esoknya penulis kembali menemui dosbing dan judul langsung di-ACC. Semudah itu. Sayangnya perjalanan setelahnya tak semudah itu. Banyak yang menyangsikan bahwa penulis dapat menyelesaikan masa studi semester ini namun ada juga senior yang meletakkan keyakinan pada penulis agar penulis dapat selesai semester ini. Penulis sendiri agak sangsi akan selesai semester ini karena dosbing penulis adalah orang yang sibuk dan sering bepergian ke luar kota. Buktinya? Alhamdulillah, terima kasih Mbak yang telah memberi suntikan motivasi bagi penulis. Your little advise gave me big move to keep going and working. Penulis tergolong lamban di masa pengerjaan bab 1 dan 2, revisi tak terelakkan lagi. Entah sudah berapa belas kali penulis merevisi bab 1 dan 2. Kuncinya? Tekun dan punya starategi yang bagus.

Jadi kalau masih ada yang bilang dibimbing oleh Bapaknya gak berkualitas dan gampang, silahkan maju ke hadapan saya. Akan saya gampar menggunakan kertas bekas revisian saya yang bisa dikilokan.

Penulis bersyukur mendapatkan dosbing seperti beliau, meski beliau sering pergi ke luar kota beliau tak mempersulit mahasiswanya melakukan bimbingan. Strategi menghadapi dosen super sibuk seperti ini adalah mengerjakan bab selanjutnya terlebih dahulu. Jadi ketika bab yang telah selesai dikerjakan diserahkan dan perlu revisi, esoknya kita harus menemui beliau untuk menyerahkan revisi begitu seterusnya dan setelah revisi usai, bab selanjutnya telah selesai kita kerjakan lalu revisi lagi. Kejarlah terus beliau selama beliau masih ada di kampus. Itu kuncinya.

Penulis juga bersyukur, teman-teman bimbingan penulis adalah teman-teman yang solid dan tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri. Teman-teman seperjuangan penulis saling membantu satu sama lain meski hanya sekedar menginformasikan keberadaan dosbing. Betapa solidnya hubungan komunikasi di antara kami. Tak hanya itu, teman seperjuangan ini juga saling membocorkan revisi satu sama lain karena revisi dari Bapak selalu sama sehingga saling memudahkan satu sama lain pula. Fenomena ini begitu berbeda dengan mahasiswa bimbingan lain yang cenderung individualis dan kurang solid.

Beranjak ke dosbing dua, untuk kali ini penulis tidak memiliki segerombolan anak bimbingan yang solid. Tapi penulis bersyukur bahwa teman sekelas penulis yang mendapatkan dosbing Bapak ini adalah rekan yang baik dan cukup membantu. Tanpa meremehkan beliau, sebetulnya bapak dosbing dua cukup teliti dan memberikan masukan revisi yang bagus. Beruntungnya, bapak dosbing dua jauh lebih murah hati hanya dengan memberikan satu kali revisi.

Setelah urusan ke dosbing selesai, saatnya ujian.

Di ujian sempro, penulis lagi-lagi bersyukur karena harus melakukan ujian face to face dengan para penguji. Mengapa bersyukur? Penulis pribadi lebih suka berbincang face to face dengan orang lain, pertama. Selain itu pressure yang didapatkan ketika melakukan ujian face to face juga lebih berkurang, begitu pula tense presentasi dan menjawab pertanyaan. Bayangkan apabila dalam ruang sidang terdapat tiga orang penguji, apabila salah satu saja dosen tipe manusia yang kritis maka pertanyaan dari penguji lain akan dieksplorasi sedemikian rupa oleh beliau. Jika dibayangkan agak mengerikan tapi tenang saja dosen tak akan sekejam itu untuk menghalangi jalan kita cepat lulus.

Penulis bersyukur untuk ke-sekian kalinya, penguji penulis (meski gelarnya mentereng dan agak menyeramkan) bukanlah tipe penguji yang killer atau sok mengetes. Penulis senang diuji oleh beliau sebab beliau tak hanya MEMPERTANYAKAN tapi juga MEMBERI SOLUSI. Ketika penulis tak mampu menjawab pertanyaan beliau, beliau mengarahkan. Ketika penulis tidak memberikan jawaban sesuai dengan yang beliau harapkan, beliau mengarahkan penulis dengan memperjelas pertanyaan. Beliau benar-benar penguji yang baik, dosen yang baik, budiman, bersahaja dan berkualitas.

Kelihatannya mudah dan lancar sekali? Apa kuncinya?

Doa.

#tibatibajadidakwah
#tibatibajadireligius

Sebenarnya bahkan jauh sebelum penulis mengerjakan skripsi, Ayah penulis telah memberi wejangan pada penulis untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Hanya saja penulis adalah orang yang bebal dan tidak mudah percaya. Seperti ujian-ujian sekolah penulis sebelumnya, penulis tak pernah sekalipun istiqomah mendekatkan diri pada Tuhan. Ada niat namun tak ada keseriusan untuk menjalaninya. Barulah sebelum penulis mengerjakan skripsi, seorang teman penulis yang lulus tahun ini juga berpesan agar penulis mengamalkan sholat malam, sholat dhuha dan membaca surat Waqi'ah dan Al-Mulk. Akhirnya hati penulis tergerak dan mulai mengamalkan, alhamdulillah Tuhan memang tidak pernah berbohong dan mengkhianati umatnya. Meski tidak selancar yang penulis inginkan, Tuhan senantiasa memberi penulis jalan keluar dan kelapangan. Sungguh, hal ini bukanlah main-main KEKUATAN DOA itu ADA! Penulis jadi agak menyesal mengapa tak mengamalkannya sejak di masa sekolah? Penulis sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Ayah itu benar adanya.

Yang kedua, tekad dan kegigihan. Seberat apapun permintaan dosen turuti saja. Apalah kita ini di mata beliau? Hanyalah butiran debu dan boneka yang bisa mereka mainkan sekena hati beliau. Apalah daya kita melampaui apa yang dosbing pilihkan untuk kita bukan? Jadikan permintaan dosen sebagai lecutan untuk menjadi lebih baik. Bulatkan tekad, jangan pernah ada satu kata malas atau enggan. Apabila sudah mulai merasa stress lebih baik kembali berserah, mencari penghiburan lain tapi jangan terlalu terlena oleh kenikmatan itu.

Sesungguhnya tak ada yang bisa memotivasi diri kalian kecuali diri kalian sendiri. Tak ada yang bisa membantu kalian menyelesaikan skripsi kecuali tekad kalian sendiri.

Penulis hanya bisa mengucapkan Alhamdulillah dan terima kasih, terutama pada Tuhan YME karena telah memberikan kelapangan jalan pada perjalan akhir penulis di perkuliahan S1. Penulis juga mengucapkan begitu banyak terima kasih pada orang-orang yang penulis temui sepanjang perjalanan pengerjaan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung dan sengaja atau tak disengaja. Terima kasih pada semua teman-teman penulis yang selalu membuat penulis bersemangat untuk memotivasi mereka agar sama-sama berjuang di ujung masa studi ini. Penulis bersyukur mendapatkan teman-teman yang baik meski motivasi mereka perlu agak dipaksa. Penulis juga berterima kasih atas segala doa dari teman-teman, semoga doa baik kembali pada kalian dan ilmu yang kita dapatkan barokah bagi seluruh alam.





Comments

  1. Waah. Selamat yaa sudah ujian skripsi. Yuk segera diurus selanjutnya, karena masih banyak keruwetan yang akan dihadapi, ngumpul skripsi, ngurus SKL, penjejakan dan ngurus ijazah haha. Welcome to the jungle!

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)