Perjalanan Mendapatkan Beasiswa LPDP (Part 3)


Setelah gagal di Batch 2 tahun 2016 (seleksi bulan April 2016) saya tidak berhenti dari situ saja. Mengingat terdapat masa kadaluarsa surat seperti: SKCK yang berakhir 6 bulan setelah pembuatan, surat kesehatan + TBC yang juga berakhir 6 bulan setelah pembuatan, surat rekomendasi yang hanya kuat mendukung kandidat dalam 1 tahun, serta sertifikat bahasa yang masing-masing hanya memiliki masa berlaku 2 tahun, menjadikan saya tidak ingin berlama-lama menunda kesempatan untuk apply lagi beasiswa LPDP. Yang pertama karena saya agak malas mengurus surat-surat tersebut lagi dan biaya untuk membuat surat kesehatan juga tidak murah. Yang kedua, mumpung masih fresh (dalam artian baru saja gagal dari pengalaman sebelumnya) setidaknya membuat saya lebih siap menghadapi tes berikutnya. Yang ketiga, semakin lama saya menunda percobaan LPDP akan semakin susah dan ketat seleksi di tahap berikutnya.

Seperti yang telah saya jelaskan di postingan mendapatkan beasiswa LPDP part 2, saya membuat daftar kira-kira apa saja sih kekurangan saya di seleksi substantif yang telah jalani. Selain memang belum layak untuk mendapatkan beasiswa, rupanya visi-misi, kegiatan sosial, kontribusi, dan argumen saya memang perlu banyak diperbaiki. Jujur saja, kebanyakan kandidat yang belum lolos akan langsung meminta data skor pada PPID kemenkeu sebagai bahan evaluasi. Saya tidak melakukannya dengan segera. Mungkin satu bulan setelah saya diumumkan tidak lolos, saya baru penasaran dan akhirnya meminta data yang saya butuhkan, yakni skor ketidaklulusan saya dari LPDP.

Butuh waktu kira-kira dua minggu sejak pengajuan permohonan pada PPID untuk mendapatkan hasil ketidaklulusan seleksi substantif beasiswa LPDP. Caranya mudah, yang pertama adalah login di website PPID kemenkeu di sini lalu mengisi borang pendaftaran selengkap-lengkapnya. Kemudian mengajukan permohonan "Hasil seleksi LPDP" disertai dengan nomor pendaftaran LPDP dengan alasan "Sebagai bahan evaluasi dan pengembangan diri." Lalu sertakan pula dokumen pendukung dalam pengajuan hasil. Dua minggu kemudian akan didapatkan e-mail sebagai berikut:

E-mail dari PPID mengenai pemberitahuan tertulis dan tanggapan
Hasil Seleksi
Seperti hasil seleksi yang telah disampaikan oleh PPID, skor yang saya dapatkan belum memenuhi passing grade prioritas kelimuan akuntansi/keuangan LPDP, yakni 714.19 dari 800. Dengan skor wawancara, LGD, dan Essay seperti yang tertera pada gambar. Mengingat skor LGD saya begitu kecil, saya rasa saya harus membenahi lebih banyak di skor LGD. Lalu saya ingat bahwa di batch 2 kemungkinan porsi saya bicara terlalu banyak. Kemudian ada juga rumor yang menyatakan bahwa bobot wawancara sekitar 70% dari keseluruhan nilai. Paling aman kita harus mendapatkan nilai wawancara 700 atau setidaknya 500 poin agar dapat melampaui passing grade, oleh sebab itu kita harus mempersiapkan argumen dan riset dengan sangat matang. Namun lolos passing grade saja tidak cukup karena ada pula kandidat yang lolos passing grade tapi tidak lolos seleksi wawancara. Apapun itu, selain usaha memang dibutuhkan doa dan ridho orang tua.

Sebetulnya tak hanya LGD atau wawancara saja yang saya perbaiki, saya juga memperbaiki essay yang saya gunakan untuk mendaftar kembali di batch 3. Terima kasih banyak untuk Mbak Tasya Kamila yang sempat membagikan tips membuat essay yang bagus di vlognya, bisa dilihat di sini dan di sini. Tasya mengungkapkan bahwa dalam membuat rencana studi terdapat minimal 5 sub bab penting seperti: Latar Belakang studi, Biaya studi, Rencana mata kuliah yang akan diambil, alasan mengambil universitas tersebut, alasan mengambil negara tersebut, kontribusi penelitian dan studi untuk Indonesia. Setelah membuat essay seperti yang Tasya anjurkan, ternyata memang lebih mudah menjawab pertanyaan interviewer berdasarkan rencana studi yang tersusun baik sedemikian rupa.

Sama seperti batch sebelumnya, saya juga berlatih menulis essay dalam 30 menit, membuat rangkuman topik-topik terhangat yang mungkin muncul di LGD/Essay berdasarkan portal berita dan sosial media. Juga sempat berlatih dengan kandidat dari kota yang sama untuk mendapatkan feel LGD sebenarnya, yah meski hanya sehari. Saya juga sempat membuat daftar pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh reviewer, saya lengkapi juga dengan pertanyaan yang ditanyakan reviewer di batch 2 lalu bagaimana cara menanggulangi blunder sedemikian rupa agar tak lagi kewalahan dalam menjawab pertanyaan memojokkan. Sebetulnya kita tidak harus terpaku pada jawaban yang sudah kita persiapkan namun merangkum kemungkinan pertanyaan akan mempermudah kita memahami poin-poin yang kita sampaikan. Toh pada hari H, jawaban saya lebih banyak improvisasi dibandingkan text-book seperti apa yang telah saya tulis jauh-jauh hari.

Berikut contoh dokumen yang saya pergunakan untuk mendaftar LPDP Batch 3 beserta dokumen yang bisa dijadikan sebagai latihan dan acuan untuk mempersiapkan seleksi substantif:

  1. Contoh Rencana Studi LPDP, saya hanya bisa berbagi rencana studi karena essay seperti kontribusi bagi Indonesia dan sukses terbesar merupakan hal yang sangat personal dan disesuaikan motivasi pribadi.
  2. Daftar pertanyaan interview, masing-masing reviewer memang memiliki pertanyaan sendiri namun saya telah merangkum sebagian kecil pertanyaan umum yang sering ditanyakan interviewer. Tenang saja, semakin ke sini reviewer semakin tidak meminta kandidat untuk melakukan hal yang aneh-aneh kok.
  3. Contoh rangkuman topik untuk EOTW dan LGD. Bukan, ini hanya sekedar contoh bukan bocoran. Setidaknya contoh daftar rangkuman topik ini dapat dijadikan acuan untuk mengikhtisarkan topik-topik yang bisa saja muncul di LGD/EOTW.

Itu semua tak ada artinya kalau tidak diiringi dengan doa dan ridho orang tua sebenarnya. Saya mendapatkan pelajaran baru lagi dari kegagalan di batch 2 kemarin, Bahwa kalau orang tua merestui keinginan kita maka keinginan itu akan benar tercapai, kalau tidak ya pastinya tidak tercapai atau tertunda. Selain karena Tuhan juga menyimpan sesuatu yang terbaik untuk kita maka Tuhan juga menundanya. Jadi, jangan lupa berdoa dan meminta ridho orang tua kemana-mana pokoknya.

Nah, setelah menanti selama satu bulan dan menghabiskan waktu untuk fangirling dedek dedek gemes masa penantian itu telah usai. Setelah sempat gagal berkali-kali juga (dalam tahun ini) seperti gagal OJK, gagal mendapatkan pekerjaan di Sawaz, gagal ini itu, gagal dalam asmara (eak!), terakhir gagal di LPDP batch 2 finally saya mendapatkan e-mail dan berita gembira kelulusan LPDP Batch 3 ini.



Memang butuh dua kali percobaan bagi saya untuk sukses namun itu tak ada artinya jika mengingat privilege yang akan saya dapatkan nanti. Tak berhenti dari situ juga, saya juga harus benar-benar mengemban amanah negara ini untuk berkontribusi setelah mendapatkan jasa dari negara dan mengembalikannya untuk kemaslahatan bangsa Indonesia sendiri. Jadi, buat kalian yang sempat gagal tak apa. Masih ada satu kali percobaan lagi dan maksimalkan kesempatan kedua itu jangan disia-siakan! Semangat! Ada begitu banyak cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kalau kata Pak Dahlan Iskan, "Habiskan jatah gagalmu di masa muda." Kalau kata saya, "Think positive and positive things will come to you."

Keberhasilan ini tak berhenti dari sini saja sebetulnya, saya juga masih harus mengurus pendaftaran ke Universitas dan mendapatkan LoA. Ya memang mempunyai LoA tak menjamin kelulusan LPDP namun setelah lulus LPDP, kita harus memikirkan cara mendapatkan LoA hehehe. Ini juga salah satu perbedaan apply di batch 2 dan batch 3 ini, di batch 2 kemarin saya sudah punya Conditional Offer dari 3 Universitas eh malah tidak lulus LPDP sementara di batch 3 ini saya belum memiliki LoA alhamdulillah justru diluluskan oleh Allah SWT. Allah memang bekerja dalam cara yang misterius.

Keberhasilan ini juga berkah dari dukungan orang tua, orang terdekat, dan teman-teman. Tanpa doa mereka saya mungkin tidak berhasil menggapai mimpi saya ini hehehe. Jadi saya memiliki pengalaman lucu ketika seleksi substantif LPDP Batch 3 ini. Alih-alih menginap di hotel, saya lebih memilih menginap di asrama mahasiswa sahabat saya (yang juga fangirl). Kami berdua tidur cukup larut karena ngobrol kesana-kemari, ngidol, nyanyi-nyanyi gak jelas alih-alih belajar untuk interview esok hari. Yang jelas semalam itu saya dan teman saya berusaha untuk rileks serileks-rileksnya. Yah meski kadang disisipi juga curhat mengenai pertanyaan yang mungkin muncul di interview. Jadi, saat itu saya menulis essay LPDP dalam bahasa Indonesia, saya sempat curhat "Eh kalau ditanyain kenapa nulis essay dalam bahasa indonesia gimana jawabnya ya? Kan emang gak ada peraturannya." Skakmat! Begitu kami berdua pikir, eh ternyata ketemu juga jawabannya setelah agak serius mikir lama. Setelah mendiskusikan jawaban tersebut, ternyata memang jawaban itu tidak bisa disanggah bahkan oleh reviewer hehehe. Beruntungnya, saat hari H pertanyaan itu benar-benar muncul dan berhubung saya sudah siap dengan jawabannya, wawancara berjalan dengan lancar hehehe. Alhamdulillah, berkah fangirling dan menginap di asrama ITS.


Sebetulnya ada begitu banyak hal yang ingin saya bagikan dalam postingan ini, sedikitnya saya ingin berbagi bahwa jangan lupa untuk selalu menuliskan resolusi karena memang benar resolusi yang ditulis itu lambat laun akan menjadi kenyataan. Tidak ada cita-cita yang ketinggian selama kita selalu berusaha untuk mendapatkannya. Kalau orang lain bisa, mengapa kita tidak?

Comments

  1. Selamat ya kak.
    Mohon ijin save gambar2 pengumuman LPDPnya buat motivasi saya pribadi.
    Semoga tahun depan saya bisa mendapatkan beasiswa LPDP.
    Saya juga mau ambil master bidang finance di luar negeri seperti kak Agista hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan kak, boleh dibagikan juga linknya. Semangat yaa~ Semoga bisa dapat LPDPnya nanti

      Delete
  2. Mbak Agista, bagaimana cara mbak untuk meningkatkan skor passing grade. Terus apa pertanyaan tricky yang kemudian berhasil dijawab dengan baik. Seperti
    1. Apa yang menyebabkan kamu gagal di periode sebelumnya?
    2. Apa visi jangka panjang kamu dan kontribusi yang bisa kamu berikan setelah lulus pendidikan?

    ReplyDelete
  3. Selamat Mbak, inspirasi buat saya yang gagal batch 3 kemarin.
    Gimana persiapan mbak dengan batch yang berdekatan begitu?
    Apa evaluasi dan persiapan jawaban ketika ditanya:
    1. Apa yang menyebabkan kamu gagal di periode sebelumnya?
    2. Apa rencana jangka panjang kamu dan apa bentuk kontribusi yang bisa diberikan kepada Indonesia setelah lulus?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas/Mbak,
      Sebetulnya persiapan saya jauh lebih bagus di Batch 2 daripada Batch 3 (kalau boleh jujur) karena jarak pengumuman lolos seleksi administrasi dan jadwal tes substantif lebih lama Batch 2 (3 minggu) daripada Batch 3 (hanya 1 minggu). Namun berbekal pengalaman dan step yang sudah pernah saya lakukan di Batch 2, setidaknya saya 60% siap. Meski demikian, saya tetap latihan lagi menulis essay, merangkum pertanyaan wawancara dan merangkum topik terkini dalam kurun seminggu tersebut.

      Saya tidak menyebutkan pada reviewer bahwa saya pernah mencoba LPDP, jadi saya tidak ditanyai mengapa gagal di batch sebelumnya.

      Alhamdulillah saya dapat menjelaskan dengan riil visi dan misi saya serta kontribusi untuk Indonesia ke depannya. Tidak perlu memulai atau membayangkan hal yang tinggi/besar, saya mulai dari lingkungan terdekat saya mas dan juga berdasarkan background pengalaman saya.

      Semoga membantu, wassalam.

      Delete
  4. Selamat malam mbak,
    Sebelumnya, terima kasih atas sharingnya. Saya ingin bertanya soal 3 essay kayak kontribusiku bagi Indonesia, dll. Di panduan kan tidak ada keterangan harus menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, jadi sebaiknya saya menulis dengan bahasa Inggris saja kan, mbak?
    Terima kasih.

    ReplyDelete
  5. Selamat malam mbak,
    Terima kasih atas sharing artikelnya. Saya ingin bertanya mengenai 3 essay yang mak jelaskan kalau tidak ada instruksi harus menggunakan bahasa Indonesia / Inggris. Jadi, sebaiknya saya menggunakan bahasa Inggris saja kan ya mbak kalau tujuan saya ke luar negeri?
    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang tidak ada keharusan pakai Bahasa Inggris atau Indonesia mas. Kalau tujuan LN memang lebih baik menggunakan Bahasa Inggris, takutnya tiba-tiba ditanyai reviewer "Kenapa kok essaynya engga ditulis dalam bahasa Inggris?" seperti saya

      Delete
  6. haloo...maaf, bisa minta link "daftar pertanyaan interview"? karena link yg di atas, isi nya bukan tentang interview. terima kasih. sukses ya buat studi nya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. http://www.mediafire.com/file/d9eqab6dv4pa40z/List+of+Possible+Interview+Questions.docx

      Delete
  7. Selamat Mba!!!

    Mba saya mau tanya,
    Jadi Mbak jawab apa tntg essai yg dlm b.Indo? Krn saya jg nulis dlm B.indo pdhl tjuan saya LN. hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)