Cuma Pengen Cerita: Jogja di Awal Tahun


Ini adalah postingan pertama tahun 2017. Tak lagi berisi resolusi tapi lebih berisi tentang curhatan pas liburan ke Jogja di awal tahun. Awalnya sih pengen bikin VLOG liburan, apa daya memori hape engga cukup. Jadi yaa gimana lagi ya. Terpaksa cuma bisa ngeblog doang. Bukannya gak istiqomah sih, sebetulnya ada niatan istiqomah tapi apa daya keterbatasan sumber daya dan biaya. Yah, aku baru sadar kalai nge-vlog butuh dana yang tidak sedikit. End of story.

Well, jadi seperti biasa karena kesukaanku adalah menulis dan pekerjaanku juga menulis aku akan menuliskan cerita liburanku ke Jogja kali ini.

Pada awalnya, aku ingin backpacking ke Jogja. Karena orang tua sendiri sudah ingin bepergian sendiri entah ke Bandung atau ke Lombok dan aku sama sekali tak ingin ikut mereka. Dan karena Jogja selalu membuatku ingin kembali. Entah ada apa dengan Jogja, sebetulnya wisatanya juga somehow kalah bagus sama wisata di Malang. Tapi aku selalu ingin kembali ke sana. Layaknya lagu KLA Project, Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu.

Dan ternyata rencanaku bepergian sendiri lagi-lagi tak tersampaikan. Yah, mungkin karena aku menceritakan rencanaku keras-keras, walhasil ortu ikut juga ke Jogja. Positifnya adalah SEMUANYA GRATIS HAHAHA! Negatifnya adalah aku tak bisa puas menjelajah Jogja seperti yang aku inginkan dan mendapatkan banyak foto instagrammable. Yah, meski pada akhirnya tetap ada foto yang instagrammable sih. Ya pokoknya gitu deh kalau liburan bareng ortu ruang gerak jadi terbatas, if you know what I mean. Apalagi dengan perangai Ayahku yang control-freak dan terlalu bossy, ugh rasanya liburan gak jadi liburan. Beruntung orangnya royal.

Aku dan keluarga berangkat di hari Jumat, malam hari setelah aku pulang kerja. Yay! Karena aku sudah bekerja, aku jadi bisa sok-sok sibuk dan sok-sok main malam hahaha. Kami menaiki kereta api Malioboro Express dan tentu saja kami berangkat dari stasiun Kota Baru. Karena Ayah bukanlah orang yang suka naik pesawat dari bandara terdekat (Abd Saleh) dan bukanlah orang yang suka naik pesawat malam (kecuali pulang). AC kereta saat itu sangatlah dingin, ditambah lagi kursi penumpang kami sekeluarga tidak berdekatan. Entah kepada siapa aku harus marah. Kepada Ayah yang tidak memperhatikan tempat duduk kami saat beli atau kebodohan petugas yang tidak bisa memahami instruksi Ayah ketika memilihkan tempat duduk kami?

Di kereta malam Malioboro Express, aku membayangkan adegan-adegan Train to Busan. Muahahahahaha!

Esoknya, sebelum shubuh kira-kira jam tiga pagi kami sampai di Jogjakarta. Kedatangan kami saja sudah tidak beres. Iya, tidak beres karena si supir rental tidak kunjung datang padahal Ibu telah meneleponnya untuk menjemput kami di Stasiun Tugu Jogja satu jam sebelumnya! Wah daebak! Awal hari pertama, kecewa!

Lanjut, pada akhirnya kami dijemput setelah menunggu cukup lama. Kami langsung bertolak ke hotel yang telah dibooking-kan teman Ibuku. Kalau kata teman Ibu sih, Hotelnya dekat dengan Malioboro. Nyatanya? Dekaaaaaatttt #dengannadasarkastik. Sudah jauh dari Malioboro, hotelnya jelek lagi. Bahkan sebelum masuk hotel aku sudah membatin bahwa hotelnya sudah pasti akan mengecewakan (karena memperhatikan jalanan dan lokasinya dari Malioboro). TA-DA! Dugaanku benar. Hotelnya mengecewakan. Interiornya tak terawat, air panasnya mati, suram, duh pokoknya engga banget deh! Belum lagi gak dapat sarapan ha ha ha. Padahal harganya setengah juta sendiri ha ha ha.

Hotel backpacker-pun masih lebih bagus daripada hotel abal-abal itu.

Setelah sampai di hotel, istirahat sebentar. Kami mandi lalu bersiap-siap menuju destinasi wisata pertama. Destinasi pertama adalah Goa Pindul. Entah Ayah keluar uang berapa, yang penting banyak. Dan gilanya Ayah selalu totalitas buang-buang uang kalau masalah liburan. Oleh sebab inilah aku jadi sungkan sekaligus trenyuh sendiri melihat keroyalan Ayah pada keluarga dan juga anak buahnya.

Di Goa Pindul, whoa! Mungkin karena tahun baru ya, jadinya penuh! Tak hanya satu dua keluarga. Entahlah mungkin itu ratusan? Yang jelas wisata Goa Pindul penuh sesak. Jadi, kalau kamu pergi Goa Pindul, wisata utamanya adalah bermain air. Kamu akan dibawa bermain air selama kurang lebih 2.5 jam. Menyusuri sungai dan Goa Pindul. Lalu rafting di sungai yang sebenarnya arus derasnya cuma beberapa meter. Jadi siap-siap deh sepulang dari wisata ini kamu bakal masuk angin lalu pilek.

Apalagi kondisiku dari Malang sudah tak sehat, akhirnya malah jadi sakit HA HA HA.


Sepulang dari Goa Pindul, lagi-lagi kami memilih wisata alam. Tak ubahnya, liburan kemarin itu benar-benar wisata alam sih. Dan sebetulnya wisata alam ini tak cocok buat orang tua, cocoknya buat anak muda. Sebab orang tuaku jadinya mengeluh terus karena capek harus jalan jauh dan naik turun. Di satu sisi kasihan, di sisi lain ya salah sendiri kenapa nuruti aku ke Jogja ha ha ha. So, destinasi kedua di hari pertama adalah air terjun Sri Gethuk.

Entah ini Ibu tahu dari mana, yang jelas Air Terjun Sri Gethuk ini dipikir bagus oleh orang tuaku. Ya kupikir juga begitu. Tapi aku sudah feeling kalau air terjunnya gak bakal lebih bagus dari air terjun yang ada di Malang. Dan menurut supir-yang-malas-dan-mengecewakan air terjun Sri Gethuk jalannya tidak terlalu bagus. Bapak itu mungkin belum pernah tahu serusak apa medan jalanan pantai selatan Kabupaten Malang ha ha ha. Jadi, jalannya sebetulnya tidak separah itu, tidak serusak itu, dan biasah aja. Udah wajar untuk ke alam jalannya cukup bergeronjal dan naik turun.

Sampailah kami di Sri Gethuk, Gunungkidul. Entah ini karena musim hujan atau memang karena the power of socmed. Sungguh air terjun Sri Gethuk kalah jauh dengan Coban Rondo, Coban Jahe, Coban Talun, atau Coban Tundo. Huwelek, harus bayar buat naik perahu dan yah gitulah pokoknya. Gak percaya?


 
Jelek kan? Ha Ha Ha

Setelah puas kecewa karena air terjun cuma fotogenik di Instagram saja, kami memutuskan untuk menuju destinasi selanjutnya yakni museum De Mata. Sebetulnya kalau kami ke sana lebih cepat kami akan bisa masuk ke de Mata 1, de Mata 2, dan de Arca. Harga tiket masuk terusan de Mata cukup terjangkau yakni 100-150ribu rupiah. Sementara harga tiket individu de Mata bisa 50-60ribu per wahana. Sayang banget atau ini memang strategi marketing Museum de Mata, mereka tutup jam 6 sore sementara kami baru sampai jam 4 kalau engga setengah 5 sore. Pfffttttt~

Hasilnya? Kami hanya bisa berfoto-foto di de Mata 2. Dan ternyata sama aja dengan museum 3D yang kami kunjungi di Bali. Well, setidaknya de Mata lebih murah dan memiliki trick eye mural yang lebih variatif daripada museum 3D di Bali. Yah apapun itu, tetap harus disyukuri. Karena tidak semua orang memiliki rejeki lebih untuk buang-buang uang dan waktu demi liburan ...



Akhirnya liburan hari pertama usai. Meski sempat penuh dengan kekecewaan. Kami bersiap-siap untuk merayakan tahun baru 2017 sebelum akhirnya kami semua tepar! Dan yah, rencana kami tahun baruan di Malioboro gagal total. Sebab aku, ayah, dan Ibu sakit semua dan akhirnya melewatkan tahun baru dengan tidur selama satu tahun. Di Jogja. 

Pindah tempat untuk tidur ceritanya ha ha ha

Sepertinya postingan ini kepanjangan ya? Jadi mari lanjutkan lain kali ha ha ha

Comments

  1. Assalamualaikum kak agista.. wah Alhamdulilah seneng bgt baca postingan kakak kali ini.. asyik dan seru liburannya.. :) pengen bgt deh kak ke Jogja, hehe
    oya selamat ya kak udah kerja sekarang, kalau boleh tau kak agista kerja di mana sekarang? dan berarti nanti kalau mau berangkat kuliah ke Jerman ijin ya kak dari tempat kerjanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah udah kerja di KapanLagi.com. Kalau kuliah saya resign mbak hehehe

      Delete
    2. maaf mbk agista kalau boleh tau kenapa resign mbk? apa tidak sesuai keinginan mbk agista?

      Delete
    3. Dear mbak yuliani,

      Bukan karena tidak kerasan atau gimana. Tapi ya karena keadaan aja. Gak mungkin dong saya tetap lanjut kerja sementara saya tinggal kuliah? Ya kalau saya sih pengennya tetap lanjut kerja tapi remote gitu heheheheh

      Delete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)