Sudah Bukan Pengangguran


Sebetulnya, aku pengen menyimpan curhatan mengenai kehidupan profesionalku sih. Tapi ya karena blog ini sudah mulai jarang diurus jadi ya cuma sekedar untuk pengisi aja biar keliatan diurusi gitu. Lagipula memang setelah terjun menjadi "penulis" atau lebih tepat disebut sebagai "jurnalis", waktu dan pikiran rasanya sudah habis jadi gak sempat lagi nulis di media lain selain media milik perusahaan. I feel you, Ron! But whatever it is seharusnya gak jadi excuse untuk berhenti produktif bukan?

Alhamdulillah, setelah 9 bulan menganggur akhirnya aku berhasil mendapatkan pekerjaan. Dan gak main-main, pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang aku banget dan udahlah pokoknya ini tuh pekerjaan yang membuatku senantiasa bersyukur. Meski memang gajinya gak setinggi akuntan perusahaan atau BUMN dan gengsinya juga gak segede kalau bekerja di perusahaan gede lainnya. Well, at least aku bekerja tidak menganggur.

Aku bekerja di sebuah portal berita. Thanks to my writing pal that gave me the opportunity to try the interview by the end of 2016. Awalnya aku gak nyangka bakal masuk sebagai bagian The Super Knight Writer, kalau mereka sebut. Dulu pernah aku kirim lamaran ke media ini tapi gak ada respon sama sekali, apa mungkin karena waktu itu aku masih kuliah? Jadi ketika writing pal-ku itu menawari pekerjaan ini aku langsung sikat saja. Nothing to lose lah yang penting kerja daripada nganggur kelamaan.

Aku lulus pada Februari 2016. Sebuah pencapaian yang gak signifikan meski lulus 3.5 tahun atau satu semester lebih cepat dari teman-teman seangkatan tapi gak langsung dapat pekerjaan. Believe me, ditanyain "Udah kerja dimana?" itu sama menyakitkannya dengan "Kapan Nikah?". Risih, males, ogah, malu, dsb dsb. Apalagi aku menyandang gelar lulus 7 semester, cumlaude. Agak malu-maluin gak sih kalau jadi pengangguran lama? Yeah, tapi memang setiap orang punya rejeki sendiri yang sudah diatur dan punya waktu sendiri yang tepat untuk menjemput rejeki tersebut.

Setelah 9 bulan menganggur, tibalah sebuah WA dari sang writing pal.

A: Gis, udah kerja belum? Ah pertanyaan macam apa ini?
Me: Belum huhu. Emang kenapa?
A: Ini tempatku ada rekrutmen. Kalau kamu mau coba, masukin aja. Syaratnya begini dan begitu.
Me: Wah boleh banget nih. Eh tapi takut gak diterima nih, soalnya dulu pernah masukin tapi gak ada kabar.
A: Ahahahaha emang di tempatku itu based on recommendation kok. Nanti aku rekomendasi deh.
Me: Wah thanks banget yaa. Ya udah aku coba dulu deh.

Finally, aku mencobanya. Dan thanks to him, I should treat him soon when he comes home (to Malang). Nothing to lose karena aku selalu mencoba dan berusaha aku masukin lah lamaran beserta berbagai portofolio-ku yang tercecer di internet (Penasaran? Googling aja namaku ntar juga bakal muncul banyak). Lalu dipanggil lah aku untuk interview. Sempat sangsi sih karena beberapa interview saat itu tidak berakhir mulus, simply aku gak dipanggil lagi untuk ttd kontrak atau bekerja di perusahaan. Jadi aku sih pasrah aja sama hasilnya nanti.

Well, permulaanku agak buruk sebetulnya. Aku sempat telat, kurang lebih setengah jam. Dan itu sangat memalukan bagiku. Ya masak belum masuk aja udah telat? Kan imej-nya buruk banget gitu. Aku telat karena aku nyasar tidak tahu dimana letak kantor media ini sebetulnya hahahahaha. Tapi tak apa, beruntung aku dapat menyelesaikan tugas tepat waktu, malah kalau aku bisa bilang sih cepat. Ya memang kerjaku cepat hahahahasombonghahahahaha. Setelah dites tulis yang mana aku gak prepare sama sekali lalu diadakan interview.

Lagi-lagi aku gak prepare. Hal ini gak boleh ditiru loh ya. Pastikan sebelum interview di perusahaan manapun kamu harus membaca sedikit sedikit tentang perusahaan, banyak malah lebih baik. Dan kebetulan karena pekerjaan ini diberikan oleh media, jadi ya harus melek dengan isu terkini. Dan kebetulan juga posisi yang kulamar berhubungan dengan hal yang viral jadi ya harus peka dengan apa yang sedang viral hari itu. Beruntung aku dapat giliran interview terakhir jadi sempat baca-baca sedikit.

Mungkin karena sudah terbiasa interview atau bahkan pernah melewati tahap interview yang lebih berat, aku jadi agak rileks. Yah meski awalnya juga deg-degan sih ditanyai apa aja gitu kan. Dan beruntung interview berjalan lancar dan sempat baca-baca berita viral jadi masih bisa jawab. Dan ya, engga lama. Beberapa hari setelahnya, entah itu satu atau dua minggu kemudian aku dapat e-mail dan dinyatakan diterima! Wait what?


Sebetulnya aku agak tidak siap karena hari pertama aku masuk kerja bersamaan dengan jadwal PK (Persiapan Keberangkatan LPDP). Padahal waktu interview aku sudah bilang kalau tidak bisa masuk awal November dan aku sudah feeling gak bakal diterima hahahaha ternyata kenyataan berkata lain. Dan Alhamdulillah yah gimana. Kesempatan emas dan rejeki tak boleh ditolak. Jadi ya fix tanggal 1 November 2017 aku masuk kerja hari pertama.

Time flies, gak kerasa udah hampir tiga bulan aku bekerja sebagai seorang editor, penulis, jurnalis, tukang gosip, you name it. But I enjoy it, kalau boleh sombong serius ini adalah pekerjaan yang paling pas buat diriku. Working in front of PC all day, less interaction with people, proper work schedule, and good salary. Emang sih gajinya gak banyak tapi ya itu cukuplah buat bekalku menyiapkan tetek bengek untuk sekolah nanti.

Satu hal yang aku sayangkan, mungkin aku gak bertahan satu tahun di tempat ini.

Ada salah satu pengunjung blog-ku yang bertanya, "Kenapa kok (bakal) resign? Apa gak nyaman atau gimana?" Well, nyaman. Nyaman banget malah, so far, bukan karena gak betah tapi karena keadaan. Kalau aku bisa dan diperbolehkan ya aku pengen kerja remote sembari kuliah nanti, ya kan lumayan gitu nabung buat modal nikah HAHAHAHAHA. Tapi entah apa diperbolehkan atau tidak aku juga gak tahu. Solusi paling realistis ya resign.

You know, kadang aku sempat merasa depresi atau bingung karena kehabisan ide, bahan, atau engga tahu harus tanya ke siapa kalau aku salah. Tapi ya pada akhirnya aku bisa mengatasi semua itu. Bukan masalah yang berat-berat banget juga. Yang jadi masalah sebetulnya sih kepribadianku. Naturally, I'm socially awkward. Hingga 3 bulan ini aku belum menemukan obrolan atau menjalin interaksi yang pas dengan rekan-rekan sekantor. Di satu sisi, aku bisa cuek gitu saja dan mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. Di sisi lain, aku merasa bersalah dan merasa "Duh, aku ini sombong banget jadi anak." Apa ya, bukan sombong sih tapi lebih ke "Apa aku pantas sih masuk ke lingkaran interaksi mereka?" ketika melihat anak-anak sekantor itu udah solid satu sama lain. Well, this is just an outsider thoughts.


Sekali lagi, aku sangat bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang. Sayangnya kadang aku masih lalai dan lupa tidak bersyukur dengan cara yang semestinya. You read it well, aku merasa kehilangan waktu untuk mendekatkan diri pada-Nya yang memberikanku semua ini dan senantiasa berbuat dosa. Entah rasanya seperti degradasi daripada diriku di akhir tahun lalu. Aku hanya takut ketika semua ini terenggut dariku karena kelalaian ini. Yah, semoga aku bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi daripada saat ini. Semoga.

Comments

  1. Alhamdulilah mbak agista sudah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kesukaan mbak, hehe.. semoga mbak agista suatu saat nanti tetep bisa kuliah dan kerjanya remote aja, kalau ndak salah kerja remote itu jarak jauh kan ya mbak? doaku smg mbak agista selalu mendapat kebahagiaan apapun yang mbak putuskan dan jalani, oya mbak maaf mau tanya, apa penguji mbak agista waktu skripsi dulu prof.bambang sugeng?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Amin.

      Iya dulu saya diuji oleh Prof. Bambang Sugeng

      Delete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)