Review Film: LOGAN [2017]

Wolverine mungkin jadi salah satu hero legendaris Marvel. Bagaimana tidak? Sejak franchise awal X-Men diproduksi, Wolverine sudah mendapatkan spotlight sebagai the hero of the heroes istilah Jawanya "lakon". Mulai dari X-Men hingga Days of Future Past, Wolverine selalu jadi penyelamat. Berbeda dengan lakon Marvel lain yang cenderung bergantian, seperti Iron Man, Captain America, Black Widow, atau Hawkeye misalnya.

X-Men sendiri merupakan salah satu franchise yang sukses, baik triloginya hingga prekuelnya. Menyusul kesuksesan X-Men, rupanya sang "tokoh utama" yakni Wolverine sampai dibuatkan film tersendiri a.k.a Spin Off. Well, sorry to say spin off Wolverine pendahulu tak ada apa-apanya dengan seri penutup sempalan dari superhero yang khas dengan brewok dan cakar andamantium ini.


Hingga saat ini, total telah terdapat 3 film Spin Off Wolverine yang diproduksi Hollywood. Wolverine: Origins, yang menceritakan asal mula gimana sih kok si Logan ini bisa jadi mutan, siapa keluarganya, siapa cinta pertamanya, siapa yang bikin dia jadi berotot kawat dan bertulang besi? Film Wolverine: Origins sebetulnya tak terlalu buruk hanya saja film ini tetap gagal. Namun tanpa film ini, spin off Deadpool yang diperankan oleh Ryan Reynolds tak mungkin dibuat.

Lalu ada The Wolverine, film ini dirilis beberapa tahun lalu dan tidak aku review karena filmnya jelek banget. It was the worst X-Men movie ever! Udah aku gak mau bahas karena filmnya seriusan jelek banget padahal telah dibuat dengan teknologi yang canggih lho! Beruntung kegagalan total The Wolverine tersebut ditebus dengan baik oleh LOGAN. Awalnya aku sempat sangsi untuk belain nonton ke bioskop namun aku berubah pikiran karena ini adalah film terakhir Hugh Jackman sebagai sang Wolverine.

***
Selang 25 tahun dari kehidupan terakhir Wolverine (entah dari X-Men Days of Future Past atau film yang manapun, pokoknya setting 2029), Wolverine tak lagi menjadi sosok pahlawan gagah, gahar, dan yang yah gitu deh gimana sih Wolverine menurut kalian? Cool dan lakik banget kan? Well, usia telah menggerogoti tubuh Wolverine. Semua orang menua, mutan juga.

Wolverine (Hugh Jackman) memang memiliki kemampuan regenerasi. Namun kemampuan ini rasanya terlalu khayal bila membuat sang superhero bercakar besi tersebut selalu tampak muda. Untuk itu produser ingin menghadirkan sisi pensiun Wolverine yang tak lagi muda, kuat, dan gahar. Tak hanya Wolverine, Profesor Charles (Patrick Stewart) pun demikian, mutan kelas 5 dengan kemampuan telepati ini semakin menua. Dan mutan sama seperti manusia biasa, dapat terkena penyakit. Profesor Charles juga begitu, manusia dengan otak terkuat di bumi ini mengidap penyakit otak serius. Nah bisa bayangkan bagaimana bila sosok dengan telepati terkuat di bumi sakit otak? Koit lah kita semua!


Namun masalahnya bukan hanya usia, masalah muncul ketika seorang wanita latin tiba-tiba mendatangi Wolverine yang sudah renta dan tak sanggup bertarung lagi. Rupanya Wolverine tak sendiri, dia telah mewariskan spesialisasi genetiknya pada seorang gadis yang (sebetulnya) tak punya kaitan darah sama sekali dengannya (atau mungkin punya?), X-23, atau Laura Kinney (Dafne Keen).

Kemunculan Laura membuat Wolverine kembali menghadapi sosok-sosok pembuat mutan seperti William Striker. Hal ini jugalah yang membuat Wolverine terlihat sebagai sosok lain, sosok yang manusiawi, sosok yang jauh dari kata kuat seperti yang menancap di stigma para penggemarnya. Dan yah, film ini menghadirkan perpisahan yang manis bagi sang pemain Hugh Jackman ataupun Patrick Stewart.


Terlepas dari serentetan keburukan THE WOLVERINE, LOGAN benar-benar memberikan akhir spin off yang manis, mengharukan, menyedihkan, dan bikin geregetan. Enough to give proper good bye for our honorable Hugh Jackman and Patrick Stewart duo. Film ini sebetulnya serius, serius banget, aura gelapnya lebih terasa dan berbeda dengan film Marvel biasanya yang lebih ke bercandaan. Meski mengangkat plot yang cukup serius, jokes masih terselip dan membuat film ini tetap asyik untuk dinikmati.

Entah mengapa, film ini membuatku berpikir bahwa ini adalah skenario Wolverine terbaik yang pernah ada. Meski demikian tak ada gading yang tak retak, ada banyak pertanyaan yang tak terjawab dalam film ini dan membuat film ini sendiri seolah memiliki lubang. Seperti kenapa Wolverine tiba-tiba jalannya pincang? Batuk-batuk? Dan beberapa pertanyaan lainnya. Sebagian pertanyaan terjawab namun sebagian lainnya tidak.

Akting semua pemeran dalam LOGAN juga patut diacungi jempol. Tak ada yang kurang, tak ada yang berlebihan, semua pas pada tempatnya dan memiliki pembagian peran yang semestinya. Percaya deh, setelah nonton film ini kamu pasti bakal kangen berat dengan sosok Wolverine seperti ini. Akting Dafne Keen juga tak bisa dianggap remeh. Kalaupun benar spin off Wolverine akan dilanjutkan oleh X-23, Dafne Keen merupakan pilihan yang tepat. Dan for sure, I fell in love with her acting in LOGAN.

Begitupun musiknya, emosi yang dihadirkan oleh chemistry Laura dan Wolverine, akting Patrick Stewart, ramuan grafis, dan adegan fight yang bisa dibilang THE MOST SAVAGE WOLVERINE MOVIE EVER! Jadi ya tolong bagi para orang tua plis jangan bawa anak nonton film Rated R gini, gak mau dong anak-anak jadi psikopat? Kalau aku sih biasa aja karena emang suka yang berdarah-darah tapi buat kalian yang gak doyan liat darah udah skip aja filmnya daripada mimpi buruk.

Overall, aku suka LOGAN. Gak cuma plotnya aja yang bikin trenyuh, well meskipun gak ada twist atau mindblowing atau bahkan credit scene, pokoknya film ini adalah film Wolverine paling emosional. Dan seharusnya seperti inilah seorang pahlawan dibuat, manusiawi, realistis, nyata, dan dekat. Kamu yang belum nonton harus nonton!

Plot★ ★ ★ ★  ½
Akting★ ★ ★ ★ ½
Musik★ ★ ★ ★  ☆
Grafis★ ★ ★ ½ 
Overall★ ★ ★ ★  ½   

Comments

  1. Ah gee pokoknya harus pelan pelan atur napas lah habis nonton film ini. 👍 review nya juga 👍👍

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)