Juli No Julid


Belakangan ini aku sering banget ke-trigger alias terpicu dari fenomena sosial media. Dari dulu sih aku memang orang yang cukup kritis dalam menanggapi sesuatu. Selalu ada yang kukomentarin dalam kolom Opini di blog ini. Bahasannya sih nggak jauh-jauh dari politik, dulu. Tapi lambat laun aku juga mengomentari hal-hal yang viral dan kadang yang tiba-tiba lewat aja di kehidupanku.

Nggak perlu hal yang berat banget untuk membuat aku terpicu untuk menulis. Hal sederhana saja, sesederhana nyinyiran netizen aku langsung tergelitik buat ngangkat fenomena tersebut dan mengkritisi balik. Rather than nyebut itu sebagai mengkritisi, yang mana aku sendiri juga belum bener, kayaknya lebih baik aku menyebutnya sebagai menelaah. Sebisa mungkin aku membeberkan sebuah fenomena dalam dua sisi yang berbeda. 

Tujuannya sederhana sih, agar kita mau mengintrospeksi diri. Nggak cuma pembaca blog ini aja tapi juga diriku pribadi yang masih penuh dosa ini. Jadi ayuklah kita sama-sama berbenah dan berpikir, bukankah orang yang bertakwa adalah orang yang mau berpikir?

Well, postingan ini turun setelah aku membaca cuitan seorang selebtwit yang tinggal di Jepang. "Home Twitter gue pada bahas kenapa Gita Savitri mulutnya...... (isi sendiri)". Twit ini dimensyen oleh teman karibku. Mungkin kalian belum tahu tapi Gita Savitri adalah salah satu role modelku dan aku sebisa mungkin untuk tetap netral di sini, nggak membela atau mempersalahkan dia.

Aku penasaran saja, bagaimana bisa seorang selebtwit yang tinggal di Jepang tersebut menulis kalimat itu di twitter? Apakah duduk permasalahannya? Lalu aku stalking lah dia. Nah, rupanya selebtwit yang tinggal di Jepang ini mengkritisi twit Gita yang berbunyi sebagai berikut:

kl liat org pake barang from head to toe harganya berjuta-juta, suka kebayang Bill Gates yg emang kaya bgt aja ga gitu-gitu amat - @gitasav
mgkin kl org yg kaya "aja", lbh suka hambur-hambur. kl org kaya "banget" lebih seneng sedekah/bikin charity - @gitasav
satu temen gw pernah bilang, "Git, kl lo udh merasa ngeluarin duit 150 ribu buat makan itu biasa, tandanya ada yg salah sama lo." - @gitasav
Saat aku baca twit itu lewat di timeline-ku kemarin, aku merasa tidak ada yang salah dengan cuitan Gita. Bahkan aku pun mengamininya sekaligus menjadikannya bahan perenungan. Kalau dipikir, iya juga ya. Kenapa kita sebagai manusia terpatok pada masalah duniawi saja? Kenapa kita tidak mencoba untuk lebih banyak bersedekah seperti yang dilakukan milyuner dunia Bill Gates contohnya atau Mark Zuckerberg. 

Menurut beberapa artikel yang aku baca pun, semakin kaya seseorang maka mereka akan lebih memilih untuk tampil sederhana. Mark Zuckerberg lah jadikan contoh, mana pernah sih si CEO Facebook itu tampil glamor? Paling pakai kaos, jeans, sneakers udah cukup kecuali kalau dia pas diundang ke Gala Dinner or something gitu. Gaya hidup Mark ini konon berkaitan erat dengan tingkat produktifitas. 

Orang-orang yang sukses akan mementingkan produktifitas oleh sebab itu mereka berusaha untuk menggunakan waktu sebaik mungkin.
Ya, salah satunya adalah dengan berpakaian sesederhana mungkin untuk menghemat waktu. Lagian kebanyakan dandan juga nggak menjamin produktifitas nambah kan? (In some case, it did) Prinsip inilah yang kemudian aku setujui. Ada benarnya juga. Dan kalau menurutku, twit Gita yang dipermasalahkan tersebut sebetulnya berusaha menyampaikan pesan ini. 


Hanya saja, netizen zaman sekarang sudah terlanjur julid. Twit yang semula memiliki makna positif jadi sorotan dan dirisak habis-habisan oleh netizen yang budiman. Dalihnya, Gita terlalu menjustifikasi orang lain, double standard, nyinyir, dan apalah apalah. Di satu sisi aku sebisa mungkin untuk memandang hal ini secara objektif tapi di sisi lain aku merasa sangat miris akan perilaku netizen ini.

Dengan menggunakan cover story situs tempatku bekerja, JULI NO JULID, aku harap postingan ini bisa mencerahkan kita semua bahwa nggak semua orang suka dijustifikasi. Baik Gita terhadap orang-orang "kaya" yang makan enak atau netizen terhadap Gita. Perlu diakui kalau sifat nyinyir ini sudah melekat kayaknya di dalam diri masing-masing netizen.

Lucunya sih, netizen atau followers atau kebetulan orang yang gampang tersulut sama twit Gita tuh menjustifikasi juga. Mereka bilang, "Jangan gampang justifikasi orang kaya dong, kan mereka makan pakai duit mereka sendiri. Nyinyir amat jadi orang," sementara mereka nggak ngaca bahwa kicauan mereka pada Gita itu kan juga bentuk justifikasi. Nah lho!

Intinya begini, kalau aku lihat Gita ini ingin mengingatkan kita untuk tidak hidup bermewah-mewah. Tapi sebagai anak yang traitsnya INTJ, Judgement, keluarlah statement yang agak menyakitkan itu. Kalau ada yang belum tahu apa itu INTJ dan bagaimana sifatnya, boleh deh cek tautan berikut ini dulu biar paham. 

Aku bukan anak psikologi to be honest tapi setidaknya aku mau membaca. Jadi aku sedikit banyak tahu bagaimana INTJ dalam bersikap (dan kebetulan sahabat karibku juga INTJ). Balik lagi, ketika twit Gita itu lewat di timeline aku pun sudah punya anchoring and adjustment sehingga mewajarkan twitnya tersebut. Tapi ternyata twit tersebut dipermasalahkan orang banyak. Dan nggak sedikit lho yang memprotes Gita dengan kalimat-kalimat yang nggak mengenakkan. Kalau aku jadi Gita sih mungkin cuma bisa istighfar dan pensiun jadi selebgram atau selebtwit atau Youtubers.


Namun kalau ditelaah lagi, kicauan Gita ini matter of Perspective. Kalau aku memposisikan diri sebagai netizen, ya emang ada sejumlah hal yang membuat twit Gita itu offensive serta jadi bumerang buat dirinya sendiri. Seperti yang dibilang netizen, toh Gita juga masih menggunakan produk make up dengan harga yang nggak murah. Makanan yang disantap di IGnya juga terbilang nggak murah juga. That's why tuduhan "double standard" dilemparkan netizen ke anak Berlin ini.

Ditambah lagi bila netizen nggak ngerti kalau sebenarnya karakter Gita itu kayak apa. Hanya karena dia berhijab, bukan berarti dia "BAIK" as you expected kan? Kalau netizen benar-benar ngikutin Gita, pasti akan paham bagaimana anak ini menyampaikan opininya yang cenderung tanpa tedeng aling-aling. Pembaca blognya Gita juga pasti ngerti kalau Gita ini memang bahasanya judgmental. I'm half INTJ and INTP so I understand it, beda sama netizen budiman yang awam soal hal ini. Tambahan lagi, dalam proses berhijrah pastilah manusia punya khilaf dan tarolah twit Gita ini bentuk kekhilafannya dalam berucap. Cewek berhijab itu nggak perfect lho, nggak melulu baik tapi berusaha untuk jadi lebih baik.

Yang bikin aku sangat miris dan menjadi poin dari sekian banyak paragraf yang aku tulis hari ini adalah terlalu mudahnya netizen menyikapi komentar seorang publik figur/seleb. Aku udah kenyang sih sama nyinyiran dan komentar negatif netizen soal berita yang aku tulis di LINE Today dan aku sudah paham betul bahwa netizen Indonesia ini gampang tersulut, suka nyari-nyari kesalahan orang lain tanpa membaca betul atau memahami betul apa yang ingin disampaikan oleh penulis.

Lucu sih netizen suka ngata-ngatain golongan kanan sebagai kaum sumbu pendek padahal dirinya yang sebagian tergolong golongan kiri juga sumbu pendek. Maka dari itu, lebih baik kita jadikan bulan ini sebagai Juli NO Julid. Artinya, daripada sibuk nyinyirin orang lain lebih baik telaah dulu makna, latar belakang, maksud si penulis sebelum menjustifikasi. Dan alangkah lebih baik untuk menjaga jempol agar tidak menuliskan kalimat-kalimat yang bisa memicu perdebatan netizen.

Karena aku bukan siapa-siapa jadi ya bebas aja sih hahahaha

Well, pada intinya hidup jadi orang famous itu memang nggak enak ya. Gita ini hitungannya belum jadi selebritis gede kayak Ayu Ting Ting, Nagita Slavina, atau sederet nama yang muncul di situs tempatku bekerja tapi beban mentalnya cukup gede juga. Bahkan Gita ini nggak se-nakal Awkarin untuk dijustifikasi sedemikian rupa oleh netizen. Rasa-rasanya kayak nggak ada yang bener di mata netizen soal siapapun yang famous ya?

Comments