Hijrah ke London

Tak jadi ke Jerman, ke Inggris pun jadi
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutulis di blog dalam minggu-minggu ini. Yang pertama, aku masih berhutang satu part lagi untuk Mendadak Lombok. Lalu aku ingin menceritakan soal pengalaman pertamaku liputan di Banyuwangi. Dan mungkin itu adalah liputan pertama dan terakhirku sebagai seorang jurnalis di sebuah media online 😕 Tapi ada satu kabar yang bikin aku excited banget hari ini dan rasanya sayang kalau kabar baik nggak segera dibagikan hehe.

Bukan, aku nggak nikah kok (dalam waktu dekat) but the exciting news is aku akan hijrah ke London! Whoaaaaaa~ 🙏🙌😘😍

Pagi ini nggak ada firasat apa-apa sih sebetulnya. Aku bangun seperti biasa, lalu bersih-bersih rumah dan sebelum ngantor sempat mengirimkan satu tulisan soal ditanya 'Kapan berangkat?'. Ya, that questions kind of bothering me. Tapi kayaknya sekarang dengan mantap aku bisa jawab, 'Awal September. Doakan aja.' How relieving right?

Kenapa aku akhirnya hijrah ke London alih-alih ke Baden Wuttemberg, Jerman? Well, ceritanya agak panjang maka dari itu postingan ini dibuat. Aku beri brief review dulu aja ya, kabar gembira hari ini adalah perpindahan universitasku disetujui oleh LPDP dan itu berarti tahun ini aku bisa berangkat melanjutkan studi S2 ke Inggris.


Nah, sekarang aku ingin cerita dari awal. Masih ingat dong betapa kerasnya usahaku untuk mendapatkan LoA dari Jerman? Kalau belum ingat atau belum ngikutin, cek dulu deh postingan ini. Di situ aku menceritakan bahwa aku sudah mengirim setidaknya 5 aplikasi ke 5 Universitas di Jerman, 1 aplikasi ke Universitas di Inggris. Di situ aku belum menyebutkan kalau aku juga mengirimkan 1 aplikasi ke Australia, 1 aplikasi ke Italia dan sejumlah aplikasi lain yang tidak aku lanjutkan ke Hungaria, Belanda, Austria atau Perancis.

Dari sekian banyak aplikasi, aku sudah kenyang penolakan terutama dari Jerman, 4/5 kampus menolakku dengan berbagai alasan. Alasannya pun bisa kamu temukan di postingan sebelumnya. Hanya 1 LoA yang kudapat dan itu dari Inggris. Aku lupa bilang bahwa mendapatkan LoA (surat penerimaan) dari negeri Ratu Elizabeth ini cukup mudah. Kenapa mudah? Kamu tinggal daftar online, unggah scan transkrip, ijazah, IELTS, dan dua surat rekomendasi kelar deh urusannya. Yang bikin sulit paling beberapa kampus minta application fee tapi nggak jarang juga kok yang menggratiskan urusan admission ini. Jadi ya, mendapatkan LoA dari Inggris memang cenderung mudah.

Masalahnya adalah Inggris merupakan negara yang mahal. Aku nggak bohong. Tuition fee di Inggris bisa mencapai ratusan juta, belum biaya hidup, bikin visa, dan lain sebagainya yang bikin kantong kering. Saat pertama kali mendaftar LPDP (dan ditolak, baca selengkapnya di sini) aku memilih ke Inggris dan LPDP kebetulan sedang mengadakan efisiensi sehingga aku gagal pergi ke negeri Wayne Rooney tersebut. Hal inilah yang membuatku merasa punya LoA dari Inggris itu tidak meyakinkan sehingga aku masih gegalauan menunggu kepastian dari Jerman.

Hingga 4 kampus menolakku, aku tak kunjung mengajukan perpindahan universitas ke LPDP dengan LoA Inggris ini. Alasannya ya itu tadi, di Inggris mahal dan I don't think I deserves that much money. Hal yang membuat aku mulai tergerak untuk memasukkan LoA Inggris ini adalah nasihat temanku yang kebetulan sekarang menempuh S3 di Australia. Dia bilang, "Udah gis, coba aja masukin. Siapa tahu diterima kan? Tapi ya gitu kalau bandingin biaya sama Jerman pasti nanti kamu ketawa sendiri," begitu katanya.

Ya udahlah ya, daripada aku menunggu nanti-nanti atau menunggu LoA Jerman yang masih belum jelas itu aku coba masukkan dulu LoA ini. Toh kalau ditolak sama LPDP aku bisa memasukkan LoA yang lain (kalau dapat). 

P.S: Perpindahan universitas LPDP memang hanya boleh satu kali dilakukan dengan catatan kalau perpindahan pertama diterima.


Setelah dinasihati itu pun aku tidak langsung membuat surat perpindahan universitas lho, aku menunda-nunda. Mencari-cari waktu yang pas hingga akhirnya aku tergerak untuk membuat surat perpindahan. Ini the power of kepepet dan depresi sih. Sebetulnya kalian nggak boleh mencontoh tindakanku ini ya 😰

Saat bikin surat perpindahan pun, aku me-rewrite surat perpindahan temanku. Jadi ada beberapa poin yang aku ambil ada beberapa poin yang aku buang. Bikinnya tuh benar-benar yang nggak niat, alasannya bahkan kayak klise dan maksa gitu menurutku. Rencana studi nggak banyak kuubah dari yang pertama aku gunakan untuk daftar LPDP di Batch III. Aku sendiri masih shock dan gak nyangka kalau iseng-iseng ini berhadiah.

Usai bikin surat perpindahan dilengkapi dengan Rencana Studi baru, IELTS, LoA, dan juga contoh artikel skripsi aku menunggu sekitar 1 minggu (7 hari kerja). Ini pun aku juga kaget lho, banyak banget kasus perpindahan universitas LPDP rekan-rekanku yang memakan waktu sangat lama. Biasanya mereka curhat bisa makan waktu 10 hari minimum dan bisa berbulan-bulan juga. Aku benar-benar menyadari bahwa Tuhan itu bekerja dengan cara yang misterius.

Padahal baru kemarin aku cerita pada teman SD-ku soal kegalauanku ini dan kami berdua juga membicarakan soal rezeki yang nggak kemana. Beberapa bulan terakhir pun aku sudah dalam kondisi yang benar-benar pasrah, nothing to lose, nggak berharap kalau permohonan pindah universitas ini diterima, benar-benar yang apapun yang dikasih Tuhan adalah terbaik buatku. Dan rupanya ini adalah jawaban dari doa-doaku.

Hardwork paid off!

Sewaktu mengerjakan berita di kantor, aku mendengar notifikasi di HP-ku. Kupikir e-mail biasa atau penolakan lagi tapi mataku langsung melotot begitu melihat pengirimnya adalah orang LPDP yang mengurusi perpindahan universitas. Segera kubuka e-mail itu dan ALHAMDULILLAH perpindahan universitasku diterima. HIJRAH KE LONDON!

Kalau diingat, dulu tuh aku pernah nge-fans die hard sebuah band Indonesia THE CHANGCUTERS. Tahu nggak lagu apa yang jadi favoritku? Hijrah ke London! And now that song is describing my life 😆

I never imagine that I would depart to Harry Potter's country, I never imagine that I could visit Old Trafford someday, I never imagine that I would learn Behavioral Finance for real. All I imagined is standing on Berlin's Door or taking photos in front of Allianz Arena. But here I come England, be nice to me! 😚

P.P.S: Ini bukanlah akhir, perjalananku masih panjang apalagi soal visa dan blablabla. As you know, bikin visa ke Inggris nggak semudah bikin visa student Jerman. Wish me luck! Doakan usahaku lancar selalu 😇

P.P.S 2: Nanti akan aku ceritakan secara terpisah step-step mengajukan perpindahan universitas ke LPDP

Comments

  1. Congrats gee! smoga perjalanan menuju gelar masternya lancar lancaar

    ReplyDelete
  2. selamat ya geeee. duh senengnya baca kabar bahagiamu ini. semoga lancar studinya ya. hehe sampe terharu :')

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)